Citra ‘Bapak’ Soeharto Yang Penuh Teror Dalam Film Autobiography

0
264

Menonton Autobiography berarti menonton bagaimana negara Orde Baru bekerja. Meskipun terlihat sederhana karena menampilkan hubungan pensiunan jenderal Pak Purnawinata (Arswendy Bening Swara) dan pembantunya Rakib (Kevin Ardilova), citra Bapak Soeharto yang memproduksi kekerasan terus mendominasi memori kolektif yang mengingatkan kita akan Orde Baru.

Orde Baru sebagai produsen kekerasan budaya dan politik beroperasi  atas dasar ideologi famili-isme ini. Bapak Soeharto menjalankan negara sebagai citra keluarga jawa yang menjadikan negara diasuhnya seperti mengelola keluarga ala jawa. Dan Autobiography menjadi semacam diorama kekerasan yang memunculkan memori kolektif Bapak Soeharto dalam menjalankan pemerintahannya dengan citra Pak Purna yang seorang kakek sayang cucu itu. 

Energi destruktif Pak Purna terus ditanamkan dalam tubuh patuh Rakib. Tentunya Tubuh patuh Rakib adalah tubuh yang paling lemah dalam rumah itu. Hildred Geertz dalam bukunya Keluarga Jawa (1983), mengatakan bahwa setiap anggota keluarga adalah pribadi yang tunggal yang dipengaruhi salah satunya unsur pertalian keluarga. Meskipun unsur paling lemah, bagi orang jawa pertalian keluarga adalah salah satu yang paling penting. Tubuh patuh Rakib adalah tubuh ideologis yang terpenting dalam rumah itu karena  Pak Purna menganggap rakib sebagai anak laki-lakinya. Privilege yang didapatkan sebagai supir pribadi dan hubungan bapak-anak ini Rakib mulai merasakan perbedaannya saat makan, konflik dengan warga, hingga dipanggil ‘sersan’ oleh orang-orang. Ia mirip tentara karena  memakai pakaian Jenderal Purnawinata. 

Yang di awal-awal film ini kita disajikan tubuh patuh itu perlahan-lahan akan menjelma menjadi tubuh mesin nan arogansi, pelindung tuannya. Memberikan ekspresi Rakib yang begitu dekat lewat spion mobil dalam, memperhatikan bagaimana sang jenderal mencopot sepatu.

Kita mesti memeriksa lebih lanjut apakah upaya kekerasan yang dilakukan Pak Purna adalah karena kekuasaan atau sekedar tubuh penuh kepatuhan? Benarkah Rakib menjadi mesin yang melanggengkan kekerasan ?

Ideologi Keluarga 

Saya Sasaki Shiraishi dalam buku Pahlawan-Pahlawan Belia Keluarga Indonesia dalam Politik (2009) menjelaskan ideologi famili-isme ini dapat dilacak dalam perkembangan Taman Siswa. Soetatmo Soerjokoesoemo dan Ki Hadjar Dewantara ‘bapak pendidikan’ inilah yang memberikan pondasi dalam ideologi famili-isme menjadi model dalam menjalankan negara ala keluarga. Taman Siswa meletakkan ideologi bagaimana sebuah organisasi dijalankan atas dasar kekeluargaan. Soetatmo mengajukan konsep keluarga dalam menjalankan negara yang akan memperbaiki demokrasi. Negara akan lebih baik jika nilai persaudaraan, kesetaraan, kasih sayang ini muncul jika hubungan dalam negara  itu dapat dirajut seperti  keluarga. Ideologi famili-isme ini diajukan sebagai hubungan penganti gusti-kaula. Dalam Orde Baru hubungan bapak-ibu dalam ideologi famili-isme mendominasi sampai ke sendi-sendi lembaga pemerintahan, sekolah, militer hingga rumah tangga. Yang sampai hari ini sisa-sisa ideologi itu masih bertahan dan luput dilupakan. Ben Anderson menjelaskan pelanggengan kekuasaan negara dapat langgeng jika lembaga keagamaan, keluarg

Di rumah itu, Pak Purna adalah sang majikan dan tubuh kecil Rakib adalah seorang pembantu yang tubuhnya penuh kepatuhan. Maka tubuh Pak Purna adalah ‘Bapak’ dan tubuh Rakib adalah ‘anak’ yang mesti patuh dengan apa yang diucapkan dan tindakan sang bapak layaknya mesin. Rakib juga adalah supir sekaligus pembantu yang bertugas antar jemput, masak, dan mencuci di rumah itu. Untuk menutupi akar-akar kekerasannya  Rakib diajarkan moralitas melalui kata ‘maaf’, ‘tenang’, ‘aman’. 

Suasana kengerian bisa terjadi di mana saja tak terkecuali di meja makan.  Soewito menjadi sasaran amarah dengan ejekan yang diberikan Pak Purnawinata,

“Kamu masih ingat waktu dulu saya merekomendasikan kamu masuk sekolah polisi padahal kamu berenang saja enggak bisa.” 

Dengan teknik pengambilan gambar yang natural terkesan tidak sempurna sehingga menimbulkan gambar distorsi telah menambah efek kengerian yang tercipta karena mampu menangkap mimik  Soewito yang tertekan. Sebagai tubuh yang patuh Soewito hanya diam mendengarkan. Inilah yang membuat terkesan gambar-gambar yang dihasilkan Autobiography begitu dekat karena mampu mewakili rasa tubuh-tubuh patuh Rakib, Soewito, dan Pak Amir kepada penonton.

Kengerian tubuh patuh itu juga tercermin saat di rumah sakit. Pengambilan gambar yang one take dengan teknik mengikuti tubuh Rakib yang menggambarkan perasaan gusar, takut dan kebingungan. Tubuh patuh itu kebingungan bahkan saat di rumah pun ia tak menyapa Pak Purna. 

Agresi tubuh kuasa Pak Purna yang penuh kendali ditunjukan saat tubuh patuh Rakib dimandikan. Tone warna merah dalam film sangat menggambarkan kengerian seutuhnya bagi tubuh patuh Rakib. Sekaligus ini menjadi momen paling horor dibandingkan dengan peristiwa yang melibatkan senjata dan darah. Kendali Bapak sangat kuat kepada anaknya.

Peristiwa Antar Jemput

Autobiography memberikan wacana antar jemput ini menjadi stigma memori kolektif. Kegiatan antar jemput ini menurut Saya Sasaki ini menjadi obsesi nasional serta memiliki memori kolektif yang berbeda beda mengenai tafsir dalam sejarah kekerasan budaya di Indonesia. 

Kita mungkin ingat, di awal peristiwa antar jemput ini adalah hubungan kekeluargaan yang baik. Kemurahan hati seorang bocah Rakib yang tulus mengantarkan sang pensiunan Jenderal ini. Hingga berubah menjadi peristiwa kekerasan penuh darah  mengantar sang jenderal pada kebun tebu. Ia dieksekusi oleh tubuh yang coba ia kendalikan dan tuliskan biografinya.  

Berbeda dengan peristiwa antar jemput ketika Rakib menjemput Agus (Yusuf Mahardika). Bisa dibilang ini adalah peristiwa penjemputan paksa yang dilakukan oleh Rakib karena ia memiliki kuasa sebagai supir pensiunan jenderal Purnawinata. Arogansi di sini muncul, akar-akar kekerasan yang ditanamkan dalam tubuh patuh Rakib menjadikannya bertindak sebagai pelindung tuan karena peristiwa perusakan spanduk pilkada. 

“Gampang kok kamu tinggal ikut sama saya nanti pulangnya saya anterin ke sini,” ucap Rakib. Nyatanya tubuh Agus tidak pernah benar-benar diantar pulang.

Dalam adegan penjemputan ini terlihat arogansi dan kenikmatan yang dirasakan Rakib. Di sini pula repetisi tindakan apa yang ia lakukan mereplika apa yang sudah dilakukan jenderal kepadanya dengan kata ‘tenang’ dan ‘maaf’.  Selain dari setelan baju, Rakib telah meniru tindakan dan bahasa dari sang pensiunan jenderal. 

Selain catur, teh/kopi, dan rokok, kita dapat menelusuri citra Bapak Soeharto dari pakaian yang dikenakan Pak Purna. Misalkan Pak Purna ketika berpidato dihadapan masyarakat ia mengenakan batik. OG. Reader dalam bukunya Soeharto Anak Desa, menyebutkan bahwa Soeharto adalah penemu diplomasi baju batik di Orde Baru, senang menggunakan jam tangan di kiri meski berbeda dengan Pak Purna di sebelah kanan. Serta gaya berpidato di depan warga dengan himbauan adalah gaya Soeharto. Catur memang bukan representasi Soeharto karena ia lebih suka main golf dan bowling. Dan mengurus kuda-kuda. Pak Purna lebih senang makan mie instan dibanding Bapak Soeharto yang menyukai nasi dan ikan asin. Meski sedikit berbeda keduanya memiliki stigma teror dalam ucapan dan tindakan yang dilakukannya.  

Dan justru yang paling horor adalah ketika kemiripan Jenderal Purna dan Bapak Soeharto saat tersenyum dan menunjukan ketenangan, kebaikan, kasih sayang kepada tubuh-tubuh patuh. Bahkan saat menjelang ajalnya di kebun tebu itu ia sempat tersenyum tipis. Kemenangan pensiunan jenderal ini begitu terasa karena ia telah berhasil  menuliskan biografinya ke dalam tubuh patuh Rakib.

Tubuh Mesin dan Tubuh Patuh

Untuk melacak tubuh Rakib yang patuh itu F. Budi Hardiman dalam buku Massa, Teror, dan Trauma (2010) menegaskan bahwa kekuasaan itu dapat langgeng karena ditopang oleh-tubuh-tubuh yang patuh. Menurut F. Budi Hardiman kekuasaan menghasilkan kepatuhan. Di sini kita mengerti, tubuh Rakib semula adalah tubuh patuh yang akan menjelma tubuh mesin yang terhubung juga dengan tubuh mesin lainnya dan dikontrol oleh tubuh rezim yang mendominasi. Sifat kepatuhan ini bergerak menurut skema-skema objektif; komando, norma, ideologi sehingga membentuk tubuh mesin yang disiplin yang dapat melakukan repetisi. Tubuh-tubuh patuh bak mesin inilah yang sebenarnya menjadi penopang kekuasaan.  

Bagi. F. Budi Hardiman tubuh mesin  yang disiplin ini terbentuk karena adanya motif kenikmatan dan survival. Inilah yang terjadi ketika Rakib begitu menikmati tubuhnya bergerak sesuai kehendaknya untuk menginvestigasi bocah SMA, Agus sebagai pelaku perusakan spanduk pilkada Pak Purna. Alasan survival sangat tergambar ketika Rakib mengobrol kembali dengan bapaknya. Yang penting ‘selamet’ dan ‘sehat’. Dorongan inilah yang membuat Rakib mengeksekusi Pak Purna

Ketakutan dan teror tidak pernah mengenal waktu dia terus ada dan diwariskan dengan segala cara. Tapi ia butuh tubuh-tubuh penuh kepatuhan untuk melanggengkan kekuasaan, dan persis ketika Pak Purna ini ingin mewariskan ideologinya dengan dominasi budaya yang dimilikinya ia sangat leluasa mengendalikan tubuh penuh kepatuhan Rakib, yang menjelma menjadi tubuh mesin yang akan mewarisi sisi terang dan gelap dari sang pensiunan Jenderal. 

Selain Rakib, tubuh patuh Soewito (Lukman Sardi) sebagai polisi yang merupakan anak asuh Pak Purnawinata ini sangat menggambarkan kengerian tersendiri dengan kemurungan, tekanan dan sikap diamnya. Nyaris di dalam film Autobiography, dalam tubuh patuh Soewito sering memperkuat tubuh kuasa Purnawinata yang ditopang oleh tubuh patuh Rakib dan Soewito ketika pensiunan jenderal ini mencoba meredam kemarahan warga dengan memberikan wejangan setelah sholat jenazah. Nyaris tubuh patuh Soewito itu selalu murung, diam, dan tertekan seperti banyak pertanyaan di kepalanya.

Kematian dan kematian. Inilah peristiwa yang menyadarkan Rakib si tubuh patuh ini mulai mengontrol tubuhnya sendiri menjadi tubuh yang memberontak. Setelah kematian Agus, Rakib mengalami pergolakan batin untuk memutuskan apakah ia harus tetap menjadi tubuh yang patuh dan disiplin atau mengikuti kehendak bebasnya?

 Kita tahu Rakib telah memilih mengakhiri hidup sang pensiunan Jenderal Purnawinata, tapi Purnawinata telah berhasil menanamkan akar-akar kekerasan pada Rakib sebagai pewaris sah ideologi sang jenderal. Ia menjadi pedagog teror, mendidik tubuh-tubuh patuh itu yang mewarisi kekerasan yang terus memproduksi kekerasan secara ulang-alik. Saya meyakini, kehororan film ini bukan karena peristiwa berdarah, tetapi lebih kepada pembentukan ideologi keluarga yang mendominasi tubuh-tubuh patuh untuk melanggengkan kekuasaan dengan cara-cara sederhana dan memikat; batik, catur, rokok, antar jemput, mie instan, meja makan, kasih sayang, kamar mandi.. 

Hingga menciptakan efek trauma bagi siapa saja yang memiliki pengalaman yang sama menjadi tubuh patuh Rakib. 

Autobiography dapat dinikmati di Primevideo bagi yang belum pernah menyelami kengerian lewat tubuh rakib.