Petualangan Sherina 2: Nostalgik yang Melankolik Kota? 

0
151

Gimana Sher, rasanya dighosting?

Sebentar…. Menonton Petualangan Sherina 2 bukan untuk memuaskan ekspektasi kita sebagai penonton, menginginkan film ini sebaik film sebelumnya. Agaknya Petualangan Sherina 2 harus dinikmati karena ‘nostalgik’, penasaran bagaimana kelanjutan kisah Sherina Melodi Darmawan (Sherina) dan Sadam Ardiwilaga (Derby Romero) dalam dunia rekaan Riri Riza dan Mira Lesmana.

Petualangan Sherina 2 menyajikan melankolia kota dalam kacamata Sherina. Ia bukan hanya perempuan yang cerdas, periang, tetapi juga perempuan yang berkarier cemerlang di Kota Jakarta sebagai reporter, namun malang dalam soal asmara. Kesuksesan adalah impian bagi siapa saja yang tinggal di Jakarta ini sebagai pekerja kantoran. 

Melankoli kota yang terekam dari pandangan Sherina dari interaksinya dengan orang-orang kota, sehingga ia terlihat egois khas orang-orang kota dalam asmara dan kehidupan sehari-hari. Mencari pembenaran dan jawaban mengapa dirinya dighosting begitu lama oleh Sadam?  

Meski dalam realitanya gak akan seperti dunia rekaan Sherina, tetap saja beberapa bagian pasti relevan bagi manusia kota misalnya saja, keinginan resign karena kecewa, mencari jawaban karena dighosting, curhat ke orang tua, merenung ‘me time’ di apartemen. 

Sherina sebagai manusia apartemen adalah bagian melankolia kota yang periang dalam bekerja tetapi juga gampang kecewa soal asmara dan pekerjaan karena dirinya gagal meliput forum ekonomi dunia di Swiss.

Selain nostalgia dengan para tokoh sebelumnya, kita juga diberikan ruang untuk menyelami lebih jauh meski sepintas lalu lewat barang-barang yang penuh kenangan masa lalu; tas, kompas, foto dan lainnnya. 

Impresi musik yang disajikan dengan riang khas Sherina adalah hal yang langsung menusuk imajinasi mengingat film sebelumnya. Musik dan koreografi dalam film Petualangan Sherina 2 adalah jantung dalam film, jadi candu. Musik dan koreografi yang impresif tanpa ini film akan terasa kering. 

Petualangan Sherina 2 menjadi film yang benar-benar menjual nostalgik para penontonnya.

Kritik JB Kristanto

Suksesnya Petualangan Sherina (1999) sebagai film yang mampu menjaring penonton begitu banyak, karena kesuksesannya dalam pemasaran film dan kasetnya.  Petualangan Sherina yang dikerjakan oleh orang-orang lulusan IKJ beberapa nama seperti Riri Riza, Eros Eflin, Yadi Sugandi menjadi orang-orang yang sama dalam menggarap film Petualangan  Sherina 2.   

JB Kristanto melukiskannya, “sebagai film yang dibuat dengan penuh penyiasatan dari sisi jenis,  kisah, pemilihan pemain, promosi, dan ternyata mendapat sukses luarbiasa secara komersial (Katalog Film Indonesia 1926-2005). Namun, JB Kristanto juga memberikan kritiknya mengenai ketidaktaatasasan terutama dalam dua pola akting tokoh baik yang diperankan secara biasa sementara tokoh jahat yang dimainkan secara ‘karikatural’.

Ketidaktaatasasan inilah yang sepertinya coba diredam dalam Petualangan Sherina 2. Unsur-unsur komikal coba dihadirkan dalam dua sisi. Penyelamatan gemilang unsur komikal itu ada dalam tokoh  Aryo (Ardit  Erwandha) dengan celetukan-celetukan khas anak muda sekarang, misalnya soal ngeblock instagram, sukses mengundang tawa para penonton.  Namun rasa ke-homealone-an yang juga dikritik JB Kristanto belum mampu mencampur dua gaya itu masih terasa dalam film. Banyak para penonton yang kehilangan sosok-sosok komikal yang keren seperti Pak Raden (Butet Kartaredjasa) dan komplotannya. 

Tanpa harus terbebani film sebelumnya, Dedi (Randy Danistha) dan komplotannya ditampilkan berbeda dengan sedikit rasa humoris bagi penonton. Sosok Ratih (Isyana Sarasvati) dan Syailendra (Chandra Satria) sebetulnya memiliki potensi dalam karakterisasi. Namun minimnya ruang eksplorasi karakter ini menjadi gampang terbenam dan terlupakan. Hal ini juga yang terasa dalam tokoh Sindai (Quinn Salman) menjadi penghubung cerita dalam film yang minim eksplorasi.    

Di dalam film, entah yang sangat mengganggu sampai sekarang adalah produk jurnalistik yang dihasilkan Sherina dan Aryo sangat tidak berkualitas. Jadi kaya gak perlu aja gitu… hehee. 

  • Saat menonton di CGV, sedikit tips pilihlah yang Starium dengan kualitas layar dan Audio Dolby Atmos, yang sangat baik membantu pengalaman menonton yang luarbiasa dalam menikmati musik dan koreografi yang ditampilkan.