del Toro, Pinocchio, dan Kematian-Kematian lainnya

0
78

Bagaimana del Toro menampilkan Pinocchio yang begitu intim?

Anak-anak adalah keajaiban yang tak bisa disentuh oleh kematian sekalipun.  del Toro dengan segala kreativitas, kesabaran dan kecintaannya terhadap film, Pinocchio (2022) hadir menjadi film animasi yang begitu menakjubkan dari segi artistik, story, dan penyajian. 

Tidak tanggung-tanggung del Toro dan kawan-kawannya, animator dari Mexico- di bawah arahan ShadowMachine- menggarap Pinocchio selama 15 tahun. Butuh kesabaran, detail yang mempesona, kerja tim yang solid, diskusi yang panjang dan tentunya kecintaan terhadap sebuah film, yang menjadikan Pinocchio bukan hanya sebuah film animasi, tetapi juga sebuah karya seni yang performatif.

Jika Anda menganggap Pinocchio adalah film animasi tentang ‘kehidupan’, bukan, bukan itu yang dimaksud oleh del Toro, justru Pinocchio adalah film tentang ‘kematian’. Perayaan kematian yang dijalani oleh tokoh-tokoh yang ada di dalamnya; dengan simpul bocah ala Pinocchio.  

Lalu mengapa del Toro memilih stop motion dalam menyajikan Pinocchio sebagai bentuk performatifnya?

Pinocchio dengan bentuk stop motionnya mengembalikan citra film dari hal yang sangat purba; ia dibuat dari tangan-tangan terampil. Ia tidak hanya menangkap citra sebuah film, tetapi juga hubungan yang sangat sakral dari pembuat bonekanya yang telah menghasilkan seni tertinggi dari film animasi.  

Seperti sihir, potongan-potongan motion itu bergerak menjadi sebuah pernyataan paling tegas dari del Toro mengenai film adaptasi Pinocchio yang paling intim, yang digarapnya melampaui sebuah film animasi; ini adalah seni!

Geppetto begitu murung dan sedih berkepanjangan semenjak ditinggal Carlo anak lelaki kesayangannya. Pinocchio hadir di dalam hidupnya dengan jiwa bocahnya yang tak seperti Carlo, anak yang selalu menurutinya.

Inilah apa yang dikatakan del Toro di Guillermo del Toro’s Pinocchio: Handcarved Cinema, “Ini tentang siapa diri kita,” ucap del Toro, “jujur pada diri sendiri, dan tak harus berubah untuk dapat diterima.”

Dalam sebuah dokumenter kecil di Netflix itu, del Toro berkisah bagaimana dirinya begitu tertarik mengenai aspek keterasingan dari Pinocchio, mengingatkannya pada sebuah karakter Frankenstein.  Pinocchio begitu asing, bahkan di usianya yang begitu ranum ia hadir ke dunia manusia yang selalu curiga dan tak diterima oleh manusia. Hingga ia membandingkan dirinya dengan Yesus yang dibuat oleh Geppetto yang sama-sama dari kayu. Mengapa ia harus diperlakukan berbeda? Yesus begitu dicintai, sedangkan dirinya begitu dibenci. 

Pinocchio dengan segala tingkahnya yang sangat bocah itu, murni menjadi manusia sepenuhnya. Dengan tingkahnya yang konyol itu Pinocchio mengubah orang-orang yang ada di sekitarnya; Gepetto, Tuan Jangkrik, Spazzatura, dan lainnya. 

Tidak ada kematian yang menggembirakan selain kematian dan kematian yang dialami Pinocchio. Kematian dirayakan dengan gembira karena dengan polosnya ia tahu bahwa dirinya tak akan mati; tertabrak mobil, ditembak Mussolini .

Hal yang paling menyentuh bagi saya adalah ketika dirinya menghancurkan jam pasir untuk dapat segera menolong Geppetto. Dengan tanpa pikir panjang khas bocah, Pinocchio menghancurkan jam pasir itu.  Segala kematian dirayakan dengan takjub.

Jika memang film ini adalah tentang kematian, bukankah Pinnochio yang harus menanggung pelbagai kesedihan karena melihat teman-teman lainnya mati meninggalkannya?

Ia menyadarkan kita dari kematian-kematian untuk merayakan kehidupan sebenarnya lewat mata bocah Pinocchio.