{"id":6526,"date":"2023-11-24T11:16:24","date_gmt":"2023-11-24T04:16:24","guid":{"rendered":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/?p=6526"},"modified":"2023-11-24T11:16:24","modified_gmt":"2023-11-24T04:16:24","slug":"prof-nurudin-perjuangan-bangsa-palestina-lewat-karya-sastra-perlawanan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/2023\/11\/24\/prof-nurudin-perjuangan-bangsa-palestina-lewat-karya-sastra-perlawanan\/","title":{"rendered":"Prof. Nurudin: Perjuangan Bangsa Palestina Lewat Karya Sastra Perlawanan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">EDURANEWS, JAKARTA. Sastra sebagai refleksi terhadap realita tidak hanya berupa gagasan dan pikiran dari kepentingan sastrawan, tetapi juga realitas sosial budaya dan politik. Itulah yang coba Prof. Nurudin uraikan dalam orasinya yang bertajuk \u201cSastra dan Perlawanan Bangsa Palestina (Semiotika dalam Puisi Karya Ibrahim Thuqan dan Mahmud Darwisy\u201d\u00a0 di Aula Latief Hendraningrat Gedung Dewi Sartika UNJ (21\/11).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perlawanan bangsa Palestina terhadap zionis Israel menjadi realitas kehidupan\u00a0 yang menjadi inspirasi bagi para sastrawan melalui karya sastra. Sastra Perlawanan bagi Prof. Nurudin menjadi ladang gerakan perubahan. Dalam konteks bangsa Palestina yang mengalami represi, sastra perlawanan menjadi alat untuk menentang\u00a0 kekuatan yang mendominasi dan menindas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tujuan utama dari sastra perlawanan adalah untuk memotivasi dan memobilisasi masyarakat untuk melawan atau mengubah keadaaan yang tidak adil. Sastra perlawanan fokus pada isu-isu yang bersifat sosial, politik, dan ekonomi seperti ketidakadilan, penindasan, korupsi, dan kebijakan diskriminatif lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam konteks bangsa Palestina karya sastra puisi atau syair\u00a0 seringkali menggunakan simbol-simbol khusus dan ikonografi\u00a0 untuk mempresentasikan perjuangan terhadap ketidakadilan\u00a0 yang dialami bangsa Palestina.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Nurudin menggunakan analisa semiotika\u00a0 yang menyoroti bagaimana bahasa digunakan untuk mengkomunikasikan pesan-pesan politis dan dan emosional. Teori semiotika dapat digunakan untuk menggali lebih dalam makna dan pesan yang tersembunyi dalam karya sastra.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Nurudin menyoroti puisi arab modern\u00a0 yang mengalami pembaharuan dalam bentuk , sudah tidak kaku mengikuti kaidah puisi-puisi lama, seperti irama dan sajak. Prof. Nurudin menjelajahi\u00a0 puisi perlawanan karya Ibrahim Thuqan (w.1941) yang berjudul \u201cMauthiny\u201d (Tanah airku) dan Mahmud Darwisy (w. 2008) yang berjudul \u201cAn Insan\u201d (Tentang Manusia).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ibrahim Thuqan mengungkapkan perlawanan bangsa Palestina secara terbuka dengan menggambarkan kesedihan terhadap kondisi negaranya\u00a0 dengan frasa, \u201cduh tanah airku\u201d. Yang dalam gambarannya bangsa Palestina\u00a0 penuh kemuliaan, kebahagian dan kedamaian yang tinggal kenangan. Setelah menggambarkan keadaan bangsa Palestina, Ibrahim Thuqan mengajak\u00a0 rakyat Palestina khususnya pemuda untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu pula dalam puisi \u201cAn Insan\u201d Mahmud Darwisy (w.2008). Ia menggambarkan kekejaman dengan \u201cMereka mengambil (merampas) makanan, pakaian, dan bendera\u201d. Serta simbol kejahatan psikis yang menjauhkan mereka dari orang-orang terdekat dengan menggambarkan, \u201cMereka mengasingkannya dari setiap yang dicintainya\u201d.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Bagi Prof. Nurudin sastra perlawanan dalam karya sastra Arab merupakan karya sastra sebagai alat untuk menyuarakan perlawanan terhadap berbagai bentuk penindasan, perampasan hak, ketidakadilan, dan kejahatan lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>EDURANEWS, JAKARTA. Sastra sebagai refleksi terhadap realita tidak hanya berupa gagasan dan pikiran dari kepentingan sastrawan, tetapi juga realitas sosial budaya dan politik. Itulah yang coba Prof. Nurudin uraikan dalam orasinya yang bertajuk \u201cSastra dan Perlawanan Bangsa Palestina (Semiotika dalam Puisi Karya Ibrahim Thuqan dan Mahmud Darwisy\u201d\u00a0 di Aula Latief Hendraningrat Gedung Dewi Sartika UNJ [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":""},"categories":[20,8],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6526"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6526"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6526\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6528,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6526\/revisions\/6528"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6526"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6526"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6526"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}