{"id":6194,"date":"2023-09-26T11:02:58","date_gmt":"2023-09-26T04:02:58","guid":{"rendered":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/?p=6194"},"modified":"2023-09-26T11:02:58","modified_gmt":"2023-09-26T04:02:58","slug":"pocong-gundul-pengalaman-dan-elemen-horor-lainnya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/2023\/09\/26\/pocong-gundul-pengalaman-dan-elemen-horor-lainnya\/","title":{"rendered":"Pocong Gundul, Pengalaman dan Elemen Horor lainnya"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Apakah tetap horor jika\u00a0 pocongnya\u00a0 gundul ?<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Tanah Jawa: Pocong Gundul adalah salah satu film alih wahana dari cerita horor yang dikenal orang-orang lewat sebuah<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> podcast<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Sebagai alih wahana, tantangan seorang sutradara salah satunya adalah memindai elemen kengerian menjadi visual dalam film, tentu ini tidaklah mudah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita sebagai pendengar kisah horor melalui medium <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">podcast<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> tentu memiliki pengalaman berbeda jika disajikan dalam bentuk elemen film.\u00a0 Dengan cara penyampaian narasi dan dialog-dialog yang mungkin saja berbeda, kita dapat menyelami kehororan yang berbeda karena adanya permainan teknik pengambilan gambar, CGI, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">colour grading<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan hal-hal lainnya yang mendukung pada tawaran kengerian pada film.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Tanah Jawa: Pocong Gundul yang digawangi Awi Suryadi mencoba meramu film ini berdasarkan apa yang dituturkan Om Hao. Dari awal dimulai film ini, Awi Suyadi mencoba tidak terburu-buru membawa elemen kengerian, lebih membawa ke penonton masuk ke dalam story atau cerita yang dibangun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kesabaran dalam membangun cerita ini, menjadi daya tarik tersendiri dalam masuk ke elemen kengerian selanjutnya, ketika Hao (Deva Mahenra) mencoba menelusuri kejadian hilangnya Sari (Nayla D. Purnama) siswi di sekolah SMK.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan kesabaran untuk memasukan elemen kengerian dan<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> jumpscare<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dari hantu pocong gundul yang memang sedikit muncul dalam film, justru kengerian, ketakutan, kaget sebagai penonton dirasakan lewat pengalaman-pengalaman tokoh di dalamnya; Hao, Sari, Walisdi dan lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun sedikit muncul, beberapa penonton merasa kaget saat beberapa kali elemen horor pocong gundul melalui siluet maupun suara dentuman. Kemampuan Hao yang disebut dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">retrokognisi <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">inilah yang coba dimasukan ke dalam film sebagai pengalaman penonton untuk merasakan hilang seperti Sari. Terutama<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> scene<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> saat menjahit di sekolah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berbeda ketika hanya mendengar atau menonton dalam podcast, puzzle kengerian dalam film ini saling terhubung dari, narasi, teknik pencahayaan, latar sekolah\u00a0 yang membangun <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">mood film<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang mencekam. Entah mengapa visual yang \u2018kuning\u2019 menjadikan film ini terasa mewah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kengerian dari wajah Hao dan Sari yang muncul dalam cermin ini menjadi elemen horor yang coba memaksa visual penonton mengalami pengalaman itu. Tentu kemampuan naratif dari film ini yang sabar membangun cerita horor ini sedikit menawarkan kengerian tersendiri didukung dengan kengerian karakter Walisdi (Iwa K) dan pemeran lainnya yang tidak kalah penting. Karakter Rida (Della Dartyan)\u00a0 yang humoris membawa elemen humor yang mengundang tawa beberapa penonton.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kisah Tanah Jawa: Pocong Gundul menawarkan kengerian dari kayanya elemen visual yang ditawarkan yang terasa mewah, kekuatan naratif sentuhan dari Agasyah Karim Khalid Kashogi dalam film ini menjadikan sesuatu yang berbeda dari film-film karya Awi Suryadi lainnya.\u00a0\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sepertinya itu yang terjadi, narasi yang kuat dengan sabar masuk hingga kita sejenak melupakan formula\u00a0 horor yang barangkali hanya itu-itu saja yang hadir dalam film ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Apakah tetap horor jika\u00a0 pocongnya\u00a0 gundul ? Kisah Tanah Jawa: Pocong Gundul adalah salah satu film alih wahana dari cerita horor yang dikenal orang-orang lewat sebuah podcast. Sebagai alih wahana, tantangan seorang sutradara salah satunya adalah memindai elemen kengerian menjadi visual dalam film, tentu ini tidaklah mudah.\u00a0 Kita sebagai pendengar kisah horor melalui medium podcast [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":""},"categories":[8,6],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6194"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6194"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6194\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6199,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6194\/revisions\/6199"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6194"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6194"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6194"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}