{"id":6184,"date":"2023-09-22T16:19:13","date_gmt":"2023-09-22T09:19:13","guid":{"rendered":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/?p=6184"},"modified":"2023-09-22T16:24:34","modified_gmt":"2023-09-22T09:24:34","slug":"kya-rawa-dan-penderitaan-akan-cinta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/2023\/09\/22\/kya-rawa-dan-penderitaan-akan-cinta\/","title":{"rendered":"Kya, Rawa dan Penderitaan akan Cinta"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Bagaimana jadinya jika perempuan hidup dalam kesendirian di rawa ?<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Where the Crawdad Sing <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">(2022)<\/span><span style=\"font-weight: 400;\"> berkisah tentang seorang perempuan bernama Kya. Ia hidup sendiri di sebuah rumah yang orang-orang bisa saja menyebutnya sebagai \u2018penyihir\u2019. Kya tidak dianggap sebagai manusia pada bisa, bahkan \u2018perempuan\u2019, karena dirinya sangat berbeda dengan orang-orang itu. Ia adalah \u2018gadis paya\u2019 begitu orang-orang memanggilnya.<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Where the Crawdad Sing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0 film yang diadaptasi dari novel dengan judul yang sama dari penulis Delia Owens.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak kecil, Kya merasakan kekerasan yang tentunya akan berpengaruh pada psikologisnya. Ia ditinggal oleh ibu dan saudara-saudaranya, karena ayahnya sangat pemarah, tak segan untuk memukul ibu dan saudara-saudaranya jika terusik. Satu persatu mereka pun pergi.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJika ada masalah,\u201d ucap Jodie saudara laki-lakinya, \u201csembunyilah di dalam Paya tempat udang karang bernyanyi.\u201d<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Perundungan dialaminya ketika pertama kali bersekolah. Tanpa alas kaki, kegembiraannya untuk mengikuti sekolah sepertinya sirna, dirinya diejek oleh anak-anak lainnya; ayam paya, tikus rawa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cMungkin dia tinggal, di rawa,\u201d \u201cDia pasti berkutu,\u201d begitu kata anak-anak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ternyata sekolah tidak membuatnya nyaman. Sekolah menjadi imaji buruk baginya karena perundungan. Bagi Kya kecil tidak ada sekolah yang cocok baginya kecuali alam atau rawa\u00a0 itu sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Akting Kya kecil (Jojo Regina) begitu mengagumkan, ia mampu menyelami karakter Kya kecil yang tangguh sekaligus rapuh. Ia tangguh jika tubuhnya berada di alam, sedangkan di urban tubuhnya terpenjara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sekolah tidak akan menghentikan bakat gambar dari Kya (Daisy Edgar Jones). Barangkali Kya mewarisi teknik menggambar yang baik dari Ibunya. Ia mampu menggambarkan dengan detail yang sangat baik binatang-binatang yang ada di sekitar rawa.\u00a0 Daisy Edgar Jones mampu membangun karakter Kya dan bangkit dari keterpurukan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penderitaan akan cinta yang dialami Kya datang silih berganti; ia ditinggal oleh ibu dan saudaranya, ditinggal kekasih pertamanya, dan dicampakan oleh kekasihnya yang baru.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meskipun perasaannya hancur dari penderitaan, seakan-akan rawa-rawa itu menyembuhkannya dari kesedihan, kekecewaan dan penderitaan Kya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Gambar-gambar yang dibuat Kya memberikan visual yang memanjakan mata. Gambar-gambar itu mampu menyihir mata untuk mengagumi seni gambar dalam memvisualisasikan binatang-binatang yang hidup di Paya; ulat, kupu-kupu, capung dan burung-burung. Mencintai sains dengan seni gambar dari tangan-tangan Kya.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Begitu banyak orang yang mencibir dan membencinya. Kya masih dilindungi oleh beberapa orang yang\u00a0 mencintainya; Tim Milton (David Strathairn), Jumpin (Sterling Macer) dan\u00a0 Mabel (Michael Hyatt).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kya benar-benar hidup dari rawa Carolina Utara itu, ia mengambil kerang-kerang lalu menjualnya di toko kelontong\u00a0 Jumpin dan\u00a0 Mabel. Mereka adalah pasangan dari kulit hitam taat beragama, mereka begitu peduli dengan perkembangan dari Kya. Dari matanyalah kita diajarkan untuk melihat Kya tanpa perbedaan.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Where the Crawdad Sing<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> banyak membuka ruang untuk dapat membaca pelbagai kemungkinan; problem pendidikan, urbanisasi, persoalan profesi\/pekerjaan dan hal-hal lainnya. Visual yang mengagumkan dari rawa-rawa itu akan menyihir bagi siapa saja yang menyukai alam sebagai simbol kemaknaan.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Siapakah sebenarnya yang membunuh Chase Andrew (Harris Dickinson) ? Rawa-rawa itu mungkin saja akan memberikan jawabannya kepadamu.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Atau dia akan menyembunyikannya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Where the Crawdad Sing dapat Anda temui di Netflix.<\/span><\/i><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bagaimana jadinya jika perempuan hidup dalam kesendirian di rawa ? Where the Crawdad Sing (2022) berkisah tentang seorang perempuan bernama Kya. Ia hidup sendiri di sebuah rumah yang orang-orang bisa saja menyebutnya sebagai \u2018penyihir\u2019. Kya tidak dianggap sebagai manusia pada bisa, bahkan \u2018perempuan\u2019, karena dirinya sangat berbeda dengan orang-orang itu. Ia adalah \u2018gadis paya\u2019 begitu [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":""},"categories":[8,6],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6184"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6184"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6184\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6189,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6184\/revisions\/6189"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6184"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6184"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6184"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}