{"id":6158,"date":"2023-09-20T11:48:43","date_gmt":"2023-09-20T04:48:43","guid":{"rendered":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/?p=6158"},"modified":"2023-09-20T11:48:43","modified_gmt":"2023-09-20T04:48:43","slug":"ketika-barang-barang-menyimpan-memori-kesedihan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/2023\/09\/20\/ketika-barang-barang-menyimpan-memori-kesedihan\/","title":{"rendered":"Ketika Barang-Barang Menyimpan Memori Kesedihan"},"content":{"rendered":"<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Mengapa mengembalikan barang bisa menyebabkan kesedihan yang berkepanjangan?<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebenarnya, apa yang Nawapol Thamrongrattanarit pikirkan ketika pertama kali menggarap Film <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Happy Old Year<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (2019) yang di mana ia mengolah filmnya dengan kesederhanaan namun penuh kesedihan di setiap adegan dalam film ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dengan durasi film yang lumayan panjang, Nawapol benar-benar menyajikan presentasi film yang padat akan cerita, dialog yang sederhana, konflik yang \u2018diam\u2019 karena banyak pergulatan batin begitu sangat performatif mengoyak-ngoyak kesedihan di setiap aktor yang memerankan dalam film ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jika ada film yang begitu indah berbicara tentang barang-barang pribadi namun banyak menyimpan memori; keindahan, kesenangan, kesedihan, barangkali <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Happy Old Year salah satu juaranya.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">Happy Old Year<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> jelas membawa kejeniusan sutradara Nawapol yang sangat menjanjikan akan perkembangan film Asia Tenggara. Bagi siapa saja yang menyukai akting yang sederhana tanpa banyak kata-kata,<em> Happy Old Year<\/em> akan memberikan banyak kejutan.<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"aligncenter wp-image-6160 size-full\" src=\"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-content\/uploads\/2023\/09\/Screenshot-2023-09-20-114313.jpg\" alt=\"\" width=\"542\" height=\"737\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Romansa yang dibangun dalam film ini menyajikan konflik yang begitu mendalam bagi orang-orang yang terlibat dari pikiran Jean (Chutimon Chuengcharoe) yang ingin membebaskan dirinya dari barang-barang yang menumpuk di rumahnya selepas ia pulang dari Swiss.\u00a0 Ia sangat menyukai hidup yang minimalis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kamera yang menyorot bagian rumah-rumah Jean, dengan mengikuti orang-orang di dalamnya terasa sangat menyentuh. Sangat menggambarkan bagaimana barang-barang itu menjadi bagian yang sangat mendalam bagi yang memilikinya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kita akan dihadapkan pada perubahan-perubahan sikap yang dialami Jean yang mencoba membuat<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2018black hole\u2019 <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">bagian barang apapun yang akan ia buang akan menghilang begitu saja . Namun Jean salah besar, ternyata barang-barang yang baginya tidak penting, begitu sangat berharga bagi orang yang memiliki kenangan dari barang itu.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jean agak kaget ketika teman dekat sekaligus desainer rumahnya yang akan merombak habis rumahnya itu yakni Pink (Patcha\u00a0 Kitchaicharoen) mempertanyakan mengapa membuang disket berisi lagu-lagu yang pernah diberikannya saat Jean ulang tahun.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Waktu ke waktu Jean benar-benar mulai menyadari bahwa dirinya harus menyelesaikan masa lalunya ketika bertemu dengan barang-barang mantannya\u00a0 Aim (Sunny Suwanmethanon) berupa kamera.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jean menyadari ada beberapa barang yang harus dikembalikan kepada orang-orang yang ingin menyimpan memorinya; kamera, sabuk, foto, anting,\u00a0 biola dan lainnya. Ia pun dihadapi dengan respon orang-orang yang ditemuinya saat barang itu dikembalikan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kresek menjadi simbol yang mengundang kesedihan. Di dalam kresek-kresek itulah Jean menyimpan barang-barang\u00a0 yang akan disingkirkannya, mungkin saja barang dapat disingkirkan tetapi memori akan sulit untuk dilupakan.\u00a0 Beberapa adegan yang menampilkan kresek-kresek itu bukan saja menjelma<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2018black hole\u2019 <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang mampu menyerap barang untuk\u00a0 mudah untuk dilupakan, tetapi menyimpan memori yang sulit untuk dilupakan.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Konflik mendalam tidak hanya Jean dapatkan dari mantannya Aim. Ia pun mendapati konflik yang mendalam dari Ibunya (Apasiri Nitibhon). Adegan saat Jean menelpon ayahnya untuk menjual piano, dengan momen hening yang panjang jelas-jelas menggambarkan kesedihan yang mendalam baginya. Juga saat ia menjual piano itu tanpa persetujuan Ibunya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Jean, meskipun ia yang paling banyak menyingkirkan barang-barang di rumahnya itu, ia adalah orang yang paling menanggung derita atas memori yang tersimpan dalam barang-barang itu. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Mengembalikan barang dan kata maaf tidak cukup untuk menyelesaikan masa lalu yang begitu rumit, penuh luka dan kesedihan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Mengapa mengembalikan barang bisa menyebabkan kesedihan yang berkepanjangan? Sebenarnya, apa yang Nawapol Thamrongrattanarit pikirkan ketika pertama kali menggarap Film Happy Old Year (2019) yang di mana ia mengolah filmnya dengan kesederhanaan namun penuh kesedihan di setiap adegan dalam film ini.\u00a0 Dengan durasi film yang lumayan panjang, Nawapol benar-benar menyajikan presentasi film yang padat akan cerita, [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":""},"categories":[8,6],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6158"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=6158"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6158\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":6161,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/6158\/revisions\/6161"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=6158"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=6158"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=6158"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}