{"id":598,"date":"2020-08-07T07:13:22","date_gmt":"2020-08-07T07:13:22","guid":{"rendered":"http:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/?p=598"},"modified":"2020-08-10T01:06:48","modified_gmt":"2020-08-10T01:06:48","slug":"kolaborasi-pengetahuan-diperlukan-dalam-membentuk-literasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/2020\/08\/07\/kolaborasi-pengetahuan-diperlukan-dalam-membentuk-literasi\/","title":{"rendered":"Kolaborasi Pengetahuan Diperlukan dalam Membentuk Literasi"},"content":{"rendered":"\n<p><em>\u201cZaman digital dan masa pandemi memberikan tantangan yang besar bagi pembentukan literasi. Perlu adanya kolaborasi pelbagai elemen agar literasi tidak hanya membeku di lingkar wacana\u201d<\/em><\/p>\n\n\n\n<p>EDURANEWS (Jakarta)-Perpustakaan Nasional mengadakan Webinar  Inkubator Literasi\u00a0 bertajuk \u201cPendidikan\u201d (5\/8). Webinar ini menghadirkan Muhammad Ivan dan Ahmad Syawqi.<\/p>\n\n\n\n<p>Pemaparan Ahmad Syawqi memberikan pemahaman mengenai&nbsp; nilai-nilai Tri Dharma Pustakawan. Ahmad Syawqi mengadopsi nilai-nilai Tri Dharma Perguruan Tinggi.&nbsp; Bagi Ahmad Syawqi, nilai-nilai Tri Dharma perguruan tinggi juga harus dimiliki oleh para pustakawan. Ahmad Syawqi menilai adanya keterkaitan antara undang-undang&nbsp; pendidikan, perpustakaan, dan tri dharma perguruan tinggi.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPustakawan mesti memiliki karya kreatif, kecakapan, dan inovatif,&#8221; kata Ahmad Syawqi yang merupakan pustakawan Ahli Madya dan dosen luar biasa bidang ilmu perpustakaan  UIN Antasari Banjarmasin.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Di sinilah tugas&nbsp; pustakawan dalam kegiatannya mesti melakukan transfer pengetahuan. Tak hanya itu, dalam kaitannya dengan tri dharma pengembangan pengetahuan juga diperlukan oleh pustakawan dengan penelitian.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cPenting melakukan kajian penelitian tidak hanya sekedar berbagi informasi,\u201d ujar Ahmad Syawqi.<\/p>\n\n\n\n<p>Sayangnya peran pustakawan secara konvensional terkadang hanya menjadi penjaga buku dan terpaku di kantor. Padahal pustakawan dapat menyatu dengan masyarakat. Langsung menyentuh jantung literasi di masyarakat. Pengalamannya sebagai pustakawan itulah Ahmad Syawqi  juga  banyak terlibat program literasi di desa-desa. Ia\u00a0 pernah menginisiasi Program Amal Buku.  Mahasiswa  mengumpulkan buku-buku untuk disumbangkan ke berbagai perpustakan di daerah.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kolaborasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Muhammad Ivan  yang merupakan lulusan pendidikan luar sekolah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) memberikan pemaparan yang sangat fondasional bagi siapapun.\u00a0 Pertanyaan yang sangat penting diajukan Muhammad Ivan , <em>\u2018Setelah membaca, Lalu Apa?\u2019<\/em>. Menurutnya, penyeragaman di pendidikan, beban guru yang berat dalam administratif menjadikan literasi mandek di sekolah-sekolah.  Inilah juga yang mengakibatkan menurunnya ranking PISA mengenai tingkat membaca dalam amatan Muhammad Ivan. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cSekolah memiliki peran vital dan fondasional,\u201d kata  Muhammad Ivan  yang juga Kasubid Ketenagaan dan Kesiswaan Pendidikan Menengah Kemenko PMK.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi Muhammad Ivan , di zaman digital seperti ini diperlukan literasi sejak dini. Apalagi di masa pandemi, orang tua, guru sulit mendampingi siswa. Terlebih Generasi Z  yang lahir tahun 90-an memiliki  mental health yang sangat kurang. Kecenderungan media sosial membentuk mereka menjadi generasi yang membutuhkan pemirsa berupa berapa banyak <em>like, reviews <\/em>dan lainnya.  Artinya kegiatan literasi mereka banyak dipengaruhi seberapa banyak pemirsa yang memperhatikan dirinya. Tantangannya siswa juga mesti mengetahui realitas di luar dirinya.\u00a0Guru menjadi pendamping ketika tatap muka.<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cBagaimana siswa tidak hanya mengenal teks, tapi juga konteks,\u201d\u00a0 kata\u00a0 Muhammad Ivan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Aktivitas membaca menjadi bagian utama dalam pembentukan literasi. Menurut  Muhammad Ivan, dalam membaca level paling kerdil, aktivitas membaca tidak perlu memilih-milih buku. Semua buku bisa dilahap, setelah itu barulah bisa memilih buku yang memang menjadi <em>passion <\/em>sesuai ketertarikan masing-masing. Juga bagaimana mengikat makna dari bacaan\u00a0 itu seperti apa yang dikatakan oleh Hernowo yang dapat dibagikan kepada orang lain.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cLiterasi tidak hanya memberikan pengetahuan, tapi juga membentuk pengetahuan didalam diri kita,&#8221; ujar Muhammad Ivan.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Ahmad Syawqi juga memberikan penjelasan mengenai pentingnya kolaborasi antara dosen, mahasiswa ketika membangun literasi terutama dalam bidang penelitian.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMahasiswa atau para sarjana dapat menjadi penggerak perpustakaan di desa,\u201d kata Ahmad Syawqi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Akhirnya intensitas kolaborasi antar elemen di masyarakat menjadi kata kunci yang sangat penting dalam pengembangan literasi.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>\u201cZaman digital dan masa pandemi memberikan tantangan yang besar bagi pembentukan literasi. Perlu adanya kolaborasi pelbagai elemen agar literasi tidak hanya membeku di lingkar wacana\u201d EDURANEWS (Jakarta)-Perpustakaan Nasional mengadakan Webinar Inkubator Literasi\u00a0 bertajuk \u201cPendidikan\u201d (5\/8). Webinar ini menghadirkan Muhammad Ivan dan Ahmad Syawqi. Pemaparan Ahmad Syawqi memberikan pemahaman mengenai&nbsp; nilai-nilai Tri Dharma Pustakawan. Ahmad Syawqi [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":604,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":""},"categories":[20,8],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/598"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=598"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/598\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":621,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/598\/revisions\/621"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/604"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=598"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=598"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=598"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}