{"id":5891,"date":"2023-07-17T09:06:53","date_gmt":"2023-07-17T02:06:53","guid":{"rendered":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/?p=5891"},"modified":"2023-07-17T09:06:53","modified_gmt":"2023-07-17T02:06:53","slug":"pemikiran-bung-karno-dan-cetak-biru-pembangunan-manusia-dan-kebudayaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/2023\/07\/17\/pemikiran-bung-karno-dan-cetak-biru-pembangunan-manusia-dan-kebudayaan\/","title":{"rendered":"Pemikiran Bung Karno dan Cetak Biru Pembangunan Manusia dan Kebudayaan"},"content":{"rendered":"<div>\n<p class=\"Default\">EDURANEWS, JAKARTA: Pada 21 Februari 1959, satu analogi menarik dari isi kuliah umum Presiden Soekarno di hadapan para mahasiswa, dosen dan seluruh unsur sivitas akademika UGM di kampus UGM. Mengawali kuliah umumnya, pada saat itu, Bung Karno mengomentari cara ananda Lina, mahasiswa UGM, yang baru saja selesai memimpin lagu Indonesia Raya. Kepemimpinan Lina itu dianalogikan oleh Bung Kano bagaimana membangun Indonesia berdasarkan Pancasila.<\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN-US\">Selanjutnya, Bung Karno mengemukakan: <i>\u201cDi dalam penyelenggaraan masyarakat adil dan makmur se\u00admua memberikan tenaganya. Insinyur-insinyur memberi tena\u00adganya, dokter-dokter memberi tenaganya, tukang-tukang gerobak memberi tenaganya, ahli-ahli ekonomi memberi tenaganya, semua memberi tenaganya. Bercorak macam, tetapi toh menjadi satu harmoni, menyusun satu masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila.<\/i><\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><i><span lang=\"EN-US\">Tadi juga demikian, macam-macam suara saya dengar. Tetapi di bawah pimpinan ananda Lina, bukan main merdunya. Saya dengar ada suara bas; saya dengar ada suara laki-laki tetapi so\u00adpraan, seperti burung sikatan suara itu. Saya mendengar ada suara yang gemetar, ada suara yang betul-betul bergelora, tetapi se\u00admuanya bersama-sama memperdengarkan satu lagu \u201cIndonesia Raya\u201d yang membangkitkan keharuan hati\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN-US\">Analogi harmoni pemikiran Bung Karno ini terlihat pula serupa dengan harmoni pemikiran Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) RI, Muhadjir Effendy, ketika mengemukakan pidato kuncinya <i>(keynote address) <\/i>tentang cetak biru <i>(blueprint)<\/i> PMK pada malam pembukaan Konferensi Forum Fakultas Ilmu Pendidikan dan Jurusan Ilmu Pendidikan (FIP-JIP), 5 Juli 2023 di Hotel Alana Yogyakarta, yang dihadiri oleh berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta di tanah air, dan sejumlah pembicara dari Australia, Taiwan dan AS,<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN-US\">Kerangka pemikiran berupa lingkaran itu memperlihatkan siklus perkembangan dan perjalanan hidup manusia mulai dari fase pranikah hingga usia lanjut. Tidak ada fase dari keseluruhan siklus perkembangan itu yang hanya menjadi tanggungjawab satu pihak atau satu institusi atau satu kementerian. Isu stunting misalnya memerlukan penanganan lintas sectoral, komprehensif dan memerlukan dukungan masyarakat luas karena sifat substansi dan persoalannya amat kompleks.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN-US\">Isu stunting sebagai contoh yang dialami anak yang kekurangan gizi, tumbuh lebih pendek dari standar balita seusianya, penyebabnya bermacam-macam, bisa saja bersumber dari perkawinan usia muda yang saat ini angkanya dinilai masih amat tinggi.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN\">Data BPS (2022) memperlihatkan jumlah yang menikah di bawah usia 15 tahun baik laki-laki atau pun perempuan masih di angka 2,26%; nikah di usia 16-18 tahun berjumlah 19,24%; \u00a0nikah di usia 19-21 tahun 33,76%; nikah di usia 22-24 tahun 27,07%; dan nikah di usia 25-30 tahun 17,67%. Penyebabnya bermacam-macam, ada yang dipengaruhi oleh faktor sosial, budaya, ekonomi, dsb.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN-US\">Dengan peta fase-fase siklus perkembangan manusia ini, setiap fase memerlukan kehadiran begitu banyak pihak. Penanganan stunting misalnya, memerlukan tenaga kesehatan, tenaga pendidikan, pemuka agama, ahli gizi, psikolog, dsb. Namun, kontribusi mereka masing-masing tetap dalam satu bingkai harmoni yang sinergis, beragam warna seperti yang tergambar begitu indah di lingkaran cetak biru pemikiran PMK seperti di pemaparan Muhadjir.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN-US\">Kembali kepada Lina, Bung Karno menuturkan: \u201c<\/span><i><span lang=\"IN\">Meskipun bermacam-macam alat, tetapi oleh karena ada pimpinan, pertama pimpinan daripada satu lembaran kertas,<\/span><\/i><i><span lang=\"IN\">\u200a<\/span><\/i><i><span lang=\"IN\">\u2014<\/span><\/i><i><span lang=\"IN\">\u200a<\/span><\/i><i><span lang=\"IN\">apa namanya itu noot, bahasa Indonesianya not.<\/span><\/i><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p><i><span lang=\"IN\">Pola <\/span><\/i><i><span lang=\"EN-US\">pembangunan <\/span><\/i><i><span lang=\"IN\">yang dibuat oleh De<\/span><\/i><i><span lang=\"EN-US\">wan P<\/span><\/i><i><span lang=\"IN\">er<\/span><\/i><i><span lang=\"EN-US\">angcang Nasional <\/span><\/i><i><span lang=\"IN\">ini, itulah kertas no<\/span><\/i><i><span lang=\"EN-US\">o<\/span><\/i><i><span lang=\"IN\">tnya. Penyelenggara dari-pada pola ini, masyarakat ini tadi, yang terutama sekali terdiri daripada tenaga\u00ad<\/span><\/i><i><span lang=\"EN-US\">&#8211;<\/span><\/i><i><span lang=\"IN\">tenaga fungsionil, menyelenggarakan pola ini bersama-sama di dalam satu irama yang merdu sehingga terselenggaralah masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila<\/span><\/i><i><span lang=\"EN-US\"> \u2026\u201d<\/span><\/i><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><b><span lang=\"EN-US\">Tiga Ragam Kertas Noot<\/span><\/b><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN-US\">Kepemimpinan Lina dalam menyanyikan Indonesia Raya, cetak biru penuntun yang memandunya adalah Noot Balok Indonesia Raya. Lina sebagai pemimpin dapat saja berganti setiap saat, tetapi Noot Baloknya akan tetap jadi panduan bagi siapa pun yang akan memimpin lagu Indonesia Raya.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN-US\">Begitu pula kepemimpinan Bung Karno untuk mencapai masyarakat adil dan makmur berdasarkan Pancasila, ia akan dipandu oleh nootnya sendiri yakni Pola Pembangunan yang telah dipersiapkan oleh Dewan Perancang Nasional yang di kala itu dipimpin oleh Muhammad Yamin.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN-US\">Demikian pula kepemimpinan Muhadjir Effendy yang mengkoordinir urusan di bidang PMK, ia akan dipandu oleh nootnya sendiri yakni cetak biru lingkaran siklus PMK dengan beragam warna dengan sejumlah lapisan-lapisan lingkaran. Isi dari cetak biru itu, kelihatannya (dari berbagai sumber), intinya seperti berikut.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN-US\"><i>Fase pertama<\/i> adalah prenatal dan ASI atau disebut juga 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Pada fase ini yang menjadi perhatian adalah memastikan kecukupan gizi dan pola asuh bayi, dan balita, untuk mencegah gagal tumbuh atau stunting. Pada fase ini diakui amat rumit dan penanganannya tidak mudah, memerlukan dukungan banyak pihak, namun tetap dalam bingkai sinergitas yang harmonis antara semua kalangan terkait baik di pusat atau pun di daerah, baik dari unsur pemerintah atau bukan.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN-US\"><i>Fase kedua<\/i> adalah usia dini anak yakni fase yang penting dalam perkembangan karakter anak. Pemerintah telah menginisiasi beragam upaya, seperti: Program Pendidikan Anak Usia Dini Holistik Integratif (PAUD-HI) yang memaksimalkan kemampuan kognitif anak, di antaranya stimulasi psikologis, pola asuh yang tepat, pemberian makan yang tepat, termasuk pembiasaan pada nilai-nilai karakter yang baik.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN-US\"><i>Fase ketiga<\/i> adalah masa wajib belajar atau fase investasi sekolah melalui Wajib Belajar 12 Tahun dan penguatan pendidikan karakter.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN-US\"><i>Fase keempat<\/i> adalah masa di perguruan tinggi atau vokasi yang menargetkan peningkatan produktivitas dan daya saing SDM. Hal ini dibutuhkan agar Indonesia siap menghadapi bonus demografi yang diprediksi akan terjadi pada 2030 mendatang, meski saat ini sudah terdapat beberapa kabupaten dan provinsi yang sudah menikmati bonus demografinya masing-masing karena jumlah penduduk usia produktifnya mencapai 2\/3 dari total jumlah penduduk.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><i><span lang=\"EN-US\">Fase kelima<\/span><\/i><span lang=\"EN-US\"> adalah fase produktif yakni fase memasuki dunia kerja serta membangun keluarga berkualitas. Sejumlah negara di dunia sudah memasuki <i>aging population, <\/i>penduduk usia mudanya yang produktif semakin berkurang, seperti Jepang, Rusia, beberapa negara di Eropah Barat dan skandinavia, dsb.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><i><span lang=\"EN-US\">Fase keenam<\/span><\/i><span lang=\"EN-US\">, adalah lansia dimana pada fase ini diharapkan bisa diwujudkan lansia yang sehat, mandiri, aktif, dan bermartabat.<\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN-US\">Dalam mengimplementasikan keenam fase tersebut, Kantor Kementerian PMK mengkoordinir pelaksanaan sejumlah program, di antaranya Gerakan Masyarakat Sehat (Germas), Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), Bantuan Sosial (Bansos), Revolusi Mental dan Pembangunan Kebudayaan, Penanggulangan Bencana dan Disabilitas.<\/p>\n<p><i>Terakhir,<\/i> semoga dengan kehadiran cetak biru siklus PMK itu akan sungguh-sungguh dijadikan sebagai kertas noot masing-masing pihak terkait baik dari unsur pemerintah atau bukan, baik instansi pusat atau pun daerah dalam melaksanakan seluruh kegiatannya masing-masing sehingga terselenggaralah satu harmoni pembangunan manusia Indonesia dan kebudayaan yang kita dambakan bersama. <\/span><\/p>\n<\/div>\n<div>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN-US\">______________<br \/>\n<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"alignleft wp-image-5859 size-medium\" src=\"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-content\/uploads\/2023\/07\/WhatsApp-Image-2023-07-13-at-12.38.29-300x189.jpeg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"189\" \/><\/p>\n<p class=\"Default\"><span lang=\"EN-US\">Prof. Dr. Hafid Abbas<\/span><\/p>\n<p>Profesor dan Ketua Senat Uninversitas Negeri Jakarta<\/p>\n<\/div>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>EDURANEWS, JAKARTA: Pada 21 Februari 1959, satu analogi menarik dari isi kuliah umum Presiden Soekarno di hadapan para mahasiswa, dosen dan seluruh unsur sivitas akademika UGM di kampus UGM. Mengawali kuliah umumnya, pada saat itu, Bung Karno mengomentari cara ananda Lina, mahasiswa UGM, yang baru saja selesai memimpin lagu Indonesia Raya. Kepemimpinan Lina itu dianalogikan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5892,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":""},"categories":[4],"tags":[493,492,491],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5891"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5891"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5891\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5893,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5891\/revisions\/5893"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5892"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5891"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5891"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5891"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}