{"id":5091,"date":"2022-10-19T16:36:52","date_gmt":"2022-10-19T09:36:52","guid":{"rendered":"http:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/?p=5091"},"modified":"2022-10-19T17:25:22","modified_gmt":"2022-10-19T10:25:22","slug":"visi-jangka-panjang-basri-yusuf-tulis-6-buku-pembinaan-badminton-berbasis-sport-science","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/2022\/10\/19\/visi-jangka-panjang-basri-yusuf-tulis-6-buku-pembinaan-badminton-berbasis-sport-science\/","title":{"rendered":"Visi Jangka Panjang, Basri Yusuf Tulis 6 Buku Pembinaan Badminton Berbasis Sport Science"},"content":{"rendered":"<p><b>EDURANEWS, JAKARTA. <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Pembinaan Badminton berbasis<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> sport science<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">\u00a0sejak usia dini<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">sangat diperlukan untuk menciptakan atlet badminton yang berkualitas. Atlet akan mampu mengeluarkan potensi terbaiknya dalam setiap pertandingan. Basri Yusuf menulis 6 jilid buku pembinaan jangka panjang badminton.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yoppy Rosimin ketua PB. Djarum mengatakan buku ini menjadi<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> legacy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> untuk bulutangkis Indonesia dan dunia. Ia menilai buku ini memiliki sudut pandang yang berbeda karena meninggalkan tradisi lama dengan mengedepankan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sport science<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Basri Yusuf menulis 6 buku ini karena terinspirasi saat berada di Singapura. Kristalisasi pemikiran dari menjadi pemain nasional, pelatih, dan pembina sport sains di lembaga pelatihan.Miskonsepsi dalam pelatihan sering terjadi karena salin tempel program dewasa kepada anak-anak mendorong Basri untuk menulis buku.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBuku ini akan mengupas tuntas pembinaan jangka panjang,\u201d ujar Basri\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Baginya, pelatihan berbasis sport science sangat penting untuk pembinaan atlet jangka panjang. Potensi atlet dapat dimaksimalkan dan mampu mengeluarkan kemampuan terbaiknya<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> (peak performance). <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Jadi pembinaan atlet itu tidak menjadi instan, butuh proses yang panjang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Basri Yusuf menjelaskan program\u00a0 pelatihan di buku ini dibagi ke dalam enam tingkatan yaitu Tahap Awal, Tahap Fundamental, Tahap Pembelajaran, Tahap Optimalisasi Keterampilan, Tahap Pematangan, dan Tahap Penajaman.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi jangka panjang akan berbasis kronologi biologis anak bukan usia,\u201d tegasnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Proyeksi jangka panjang<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Basri menegaskan bahwa prestasi tidak dapat diraih dengan cara instan, namun melalui pembinaan jangka panjang. Penggunaan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sport science<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> membantu pelatih dan pemain dalam menganalisa lebih banyak hal. Pembinaan berjalan menjadi lebih efektif.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Amatan Sapta Kunto, kronologis biologis akan membantu atlet untuk menghindari cedera yang serius. Pelatih diharapkan memberikan porsi latihan yang tepat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPelatih sering memberikan latihan beban yang membahayakan atlet sehingga jika cedera sangat sulit disembuhkan,\u201d ujarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. FX Sugiarto menjelaskan jika kualitas atlet menurun seiring usia jika tahap-tahap pembinaan tidak diperhatikan dari awal. Prof. FX Sugiarto juga menilai kebanyakan atlet gagal juga karena gaya hidup. Penjelasan yang disusun sesuai dengan tahap-tahap pembinaan akan membantu pelatih dan atlet menemukan performa terbaik. Buku ini juga dapat memantik penelitian lebih lanjut di dunia akademik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cBuku ini tidak hanya terbatas untuk pelatih tetapi juga menjadi referensi para akademisi dalam menulis skripsi dan disertasi,\u201d ujarnya.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Hariyanto Arbi yang merupakan mantan atlet dunia berprestasi menjelaskan pengalamannya saat dilatih Basri Yusuf.\u00a0 Tahun 1984-1986, Hariyanto belum mengenal<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> sports science<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, namun cara melatihnya sudah menerapkan cara-cara <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sports science<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Misalnya ia dilatih belajar untuk memvisualisasikan sebelum main.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSambil nonton video mencari kelemahan dan kelebihan lawan,\u201d ujar pemilik smash 100 watt ini. Latihan visualisasi ini terkait dengan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Performance Analysis <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">yang menjadi bagian dalam penerapan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">sport science<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>EDURANEWS, JAKARTA. Pembinaan Badminton berbasis sport science\u00a0sejak usia dini sangat diperlukan untuk menciptakan atlet badminton yang berkualitas. Atlet akan mampu mengeluarkan potensi terbaiknya dalam setiap pertandingan. Basri Yusuf menulis 6 jilid buku pembinaan jangka panjang badminton.\u00a0 Yoppy Rosimin ketua PB. Djarum mengatakan buku ini menjadi legacy untuk bulutangkis Indonesia dan dunia. Ia menilai buku ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":5092,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":""},"categories":[20,8],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5091"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5091"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5091\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5104,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5091\/revisions\/5104"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5092"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5091"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5091"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5091"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}