{"id":4972,"date":"2022-09-06T21:28:45","date_gmt":"2022-09-06T14:28:45","guid":{"rendered":"http:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/?p=4972"},"modified":"2022-09-06T22:01:03","modified_gmt":"2022-09-06T15:01:03","slug":"prof-kh-said-aqil-siradj-pemahaman-agama-yang-benar-akan-membawa-agama-kepada-kemanusiaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/2022\/09\/06\/prof-kh-said-aqil-siradj-pemahaman-agama-yang-benar-akan-membawa-agama-kepada-kemanusiaan\/","title":{"rendered":"Prof. KH. Said Aqil Siradj: Pemahaman Agama yang Benar Akan Membawa Agama Kepada Kemanusiaan"},"content":{"rendered":"<p><b>EDURANEWS, JAKARTA. <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan Tadarus Kebangsaan bersama Prof. KH. Said Aqil Siradj\u00a0 di Aula Maftuchah Yusuf Gedung Dewi Sartika Kampus A UNJ (6\/9). Tadarus kebangsaan bertajuk \u201cAgama, Negara, dan Kearifan lokal\u201d merupakan acara yang diinisiasi Pusat Pengembangan Pendidikan Karakter dan Peradaban UNJ. Prof. KH. Said Aqil Siradj memberikan pandangan yang memberikan cakrawala luas mengenai hubungan Agama, Negara dan Kearifan lokal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Rektor UNJ Prof. Komarudin dalam sambutannya mengatakan tadarus kebangsaan ini untuk memberikan pencerahan kepada civitas akademika UNJ. Tema yang diangkat pun menjadi tepat ketika melihat kondisi bangsa Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKondisi bangsa Indonesia yang memang masih terus perlu merajut ikatan kebangsaan yang belum selesai,\u201d ucap Prof. Komarudin. Upaya memperkuat tali ikatan kebangsaan ini menjadi penting untuk terus dirajut.\u00a0 \u00a0<\/span><\/p>\n<p><strong>Belajar dari Perjuangan Nabi Muhammad<\/strong><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. KH. Said Aqil Siradj mengawali tadarus kebangsaan dengan menjelaskan perjuangan Nabi Muhammad dalam berdakwah. Perjuangan Nabi Muhammad untuk menyebarkan Islam sebagai agama yang menyejukan dari kota ke kota.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNabi muhammad dari Abad 15 yang lalu\u00a0 telah mencoba dan berhasil membangun sebuah masyarakat bukan dari konstitusi agama dan etnik tetapi kesamaan cita-cita dan visi misi,\u201d ujar Prof. KH. Said Aqil Siradj.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Prof. KH. Said Aqil Siradj di sinilah Nabi Muhammad tidak pernah memproklamirkan negara Islam. Yang dibangun Nabi Muhammad adalah negara modern yang berasaskan kesamaan di mata hukum. Nabi Muhammad telah berhasil membangun masyarakat yang madani.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. KH. Said Aqil Siradj juga mengingatkan ada dua amanah yang diberikan oleh Allah SWT yakni, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> amanah yang bersifat ilahiah yang sakral berupa agama yang berisi aqidah dan syariah.<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Kedua,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> yang bersifat imaniah yakni amanah yang tergantung pada manusia berupa \u201cijtihad\u201d hasil kesepakatan manusia. Ijtihad inilah yang dapat dibangun berdasarkan kemampuan dan kreativitas manusia itu sendiri.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Merajut Benang Kebangsaan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Prof. KH. Said Aqil Siradj Islam dibawa ke Nusantara oleh para wali. Para Wali ketika itu melihat masyarakat Nusantara telah berkarakter dan berbudaya. Para Wali menganggap kebudayaan harus dilestarikan bahkan dijadikan pondasi dalam beragama. Ijtihad para Wali inilah yang menjadikan kebudayaan sebagai pondasi awal dalam beragama. Prof. KH. Said Aqil Siradj juga percaya bahwa Islam yang dibawa ke masyarakat adalah dengan pendekatan kebudayaan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. KH. Said Aqil Siradj juga menjelaskan pemikiran KH. Hasyim Asy\u2019ari yang membangun format berpikir bagaimana menyatukan antara teologi dan budaya dan teologi dengan politik kebangsaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPolitik yang berdasarkan agama tidak lagi bisa menjawab tantangan zaman,\u201d ujar Prof. KH. Aqil Siradj. <\/span><\/p>\n<p>Prof. KH. Aqil Siradj menjelaskan bahwa KH. Hasyim Asy\u2019ari telah membaca tanda-tanda zaman dengan\u00a0 memberikan pandangan <i>\u201cHubbul wathon minal iman\u201d<\/i> yaitu nasionalisme bagian dari keimanan. Kata-kata ini sepertinya ringan tetapi memiliki filosofi yang kuat. Juga pandangannya mengenai \u201cmati demi tanah airnya adalah mati syahid\u201d. Pun di tahun 1936 Muktamar Nahdlatul Ulama di Banjarmasin juga memutuskan Indonesia sebagai Darussalam yakni negara yang damai.<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDiperkuat lagi ketika Gus Dur menjadi ketua Nahdatul Ulama bahwa NKRI dan Pancasila sudah final,\u201d ujar Prof. KH. Aqil Siradj yang juga mengingatkan untuk mempertahankan kedamaian dalam rangka beribadah kepada Allah SWT.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kepada EduraNews Prof. KH. Aqil Siradj juga menjelaskan bagaimana pemahaman agama yang benar pasti akan membawa agama kepada kemanusiaan, persatuan, persaudaraan dan keadilan. Prof, KH. Aqil Siradj juga berpesan agar para pendidik dan calon guru untuk dapat menjadi contoh yang baik yang dapat diteladani anak didiknya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKita sekarang krisis keteladanan,\u201d ujar Prof. KH. Aqil Siradj.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>Foto: Arum<\/p>\n<p>Kameramen: Ramdhani<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>EDURANEWS, JAKARTA. Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menyelenggarakan Tadarus Kebangsaan bersama Prof. KH. Said Aqil Siradj\u00a0 di Aula Maftuchah Yusuf Gedung Dewi Sartika Kampus A UNJ (6\/9). Tadarus kebangsaan bertajuk \u201cAgama, Negara, dan Kearifan lokal\u201d merupakan acara yang diinisiasi Pusat Pengembangan Pendidikan Karakter dan Peradaban UNJ. Prof. KH. Said Aqil Siradj memberikan pandangan yang memberikan cakrawala [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":4980,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":""},"categories":[20,8],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4972"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4972"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4972\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4979,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4972\/revisions\/4979"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/4980"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4972"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4972"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4972"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}