{"id":3628,"date":"2021-11-29T14:14:38","date_gmt":"2021-11-29T07:14:38","guid":{"rendered":"http:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/?p=3628"},"modified":"2021-11-29T14:49:29","modified_gmt":"2021-11-29T07:49:29","slug":"hari-guru-nasional-generasi-emas-di-tangan-guru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/2021\/11\/29\/hari-guru-nasional-generasi-emas-di-tangan-guru\/","title":{"rendered":"Hari Guru Nasional, Generasi Emas di Tangan Guru"},"content":{"rendered":"<p><b>EDURANEWS, JAKARTA-\u00a0 <\/b>Ikatan Alumni<b> <span style=\"font-weight: 400;\"> S3 <\/span><\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Manajemen Pendidikan Pascasarjana UNJ mengadakan webinar bertajuk <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Guru Hebat untuk Generasi Unggul Menuju Indonesia Emas&#8221;<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (27\/11). Webinar ini sekaligus memperingati hari Guru Nasional dan PGRI yang ke 76. Menghadirkan Prof. Henry Eryanto, Dr. Encik Abdul Hajar, Dr. Debby Andriany dan Dr. Hamidah dan dimoderatori oleh Dr. Marganda Sitohang. Webinar ini melihat kembali peran guru dalam menciptakan generasi unggul.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Henry misalnya menyoroti peran dan visi besar yang harus diwujudkan bangsa Indonesia. Indonesia Emas diharapkan mampu bersaing tentu dalam koridor kolaborasi. Ada peran generasi muda yang perlu diperhatikan. Terutama generasi sekarang yang masih dalam tahap sekolah-sekolah dasar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGenerasi muda yang berada di sekolah-sekolah dasar inilah yang akan menjadi generasi emas,\u201d kata Prof. Henry.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Penting sekali untuk\u00a0 menyiapkan mereka menjadi generasi yang akrab dengan dunia digital. Peran guru memiliki peran yang besar. Guru yang hebatlah yang mampu menyiapkan generasi emas ini. Guru hebat adalah guru yang profesional.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cGuru yang profesional dan mumpuni di bidangnya,\u201d ucap Prof. Henry yang yakin di tangan guru hebatlah generasi emas akan terwujud.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Henry juga menjelaskan kriteria guru yang profesional. <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Pertama,<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memfasilitasi dan menginspirasi peserta didik belajar secara kreatif, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">kedua <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">memiliki jiwa nasionalisme dan rasa tanggung jawab tinggi di era digital, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">ketiga<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mendesain dan mengembangkan media digital untuk pengalaman belajar dan mengevaluasi, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">keempat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> memanfaatkan media digital dalam bekerja dan belajar,<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> kelima<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> mampu menumbuhkan profesionalisme dan kepemimpinan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Seorang guru juga harus mampu tampil sebagai guru yang mampu mempesona. Guru juga harus menjadi teman belajar yang menyenangkan, pandai berempati dan menyayangi peserta didik. memiliki rasa kesepenuhatian dan menyadari apa yang dilakukan adalah panggilan jiwa.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cJadi seorang guru bekerja dengan hati,\u201d ucapnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kompetensi guru dalam melakukan tugas pendidikan dan pengajaran harus memiliki profesionalisme. Di era digital guru harus mampu membuat pembelajaran yang berbasis digital.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Belajar dari Sekolah Indonesia Kuala Lumpur<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dr. Encik Abdul Hajar memaparkan bagaimana menjadi guru sukses untuk pendidikan Indonesia yang unggul. Dalam pemaparannya banyak diungkapkan pelbagai <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">best practice<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berdasarkan teori dan pengalaman di Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada beberapa nilai \u201cTIF\u201d yang harus dimiliki guru sukses dalam menciptakan pendidikan unggul. Nilai dan karakter itu adalah; <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Antisipatif, Proaktif, Inovatif, Kreatif, Aspiratif, dan Kolaboratif.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNilai ini dapat menghasilkan anak-anak yang unggul,\u201d kata Dr. Encik.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">SIKL menyelenggarakan pendidikan WNI yang berintegritas dan berkualitas. SIKL ini berada di bawah KBRI Kuala Lumpur.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKami ikut juga dalam pendidikan nonformal,\u201d kata Dr. Encik yang menjelaskan SKIL ini memiliki pelbagai jenjang sekolah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">PKBM selama masa pandemi dilaksanakan secara daring. Guru-guru dari Indonesia dan murid-murid banyak dari anak pekerja yang mencari nafkah di Malaysia. Guru-guru juga banyak direkrut dari mahasiswa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">SIKL menjadi pusat budaya dan bahasa Indonesia. Mempromosikan budaya dan Indonesia seperti pentas budaya Indonesia, festival pantun pendidikan negeri serumpun, bahasa Indonesia penutur asing, seminar dan webinar internasional tentang budaya dan bahasa Indonesia, serta kolaborasi internasional pementasan budaya Indonesia.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam proses belajar mengajar, SKIL menerapkan IPTEK dan IMTAQ. Prosesnya mulai dari\u00a0 rencana (penyelarasan kurikulum, RPP Digital, blueprint mingguan), proses (belajar di rumah dan di sekolah), dan evaluasi (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">as, of, for learning<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Menuju Indonesia Emas Melalui Manajemen Pendidikan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dr. Debby Andriany menjelaskan mengenai bagaimana peran guru dalam menciptakan manusia yang intelektual berbasis manajemen berbasis sekolah. Dunia pendidikan harus melakukan perubahan pola pikir. Serta Tipe kepribadian Adversity Quotiont (AQ) yakni kecerdasan yang mampu mengatasi kesulitan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dalam amatan Dr. Debby, ada 5 fungsi dasar manajemen yang harus dimatangkan dalam lembaga pendidikan dan pendidik yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Planning,<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">Organizing, Actuating, Controlling, Evaluating.\u00a0\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPeningkatan manajemen akan meningkatan mutu sekolah,\u201d jelasnya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pemahaman manajemen menjadi hal yang sangat penting untuk dipahami bagi guru dan juga kepala sekolah. Salah satu negara yang memiliki sistem pendidikan terbaik yaitu Finlandia. Sekolah pemerintah banyak menghasilkan ahli dan kaum terpelajar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dr. Debby juga menjelaskan mengenai kecakapan hidup Abad 21. Kebijakan guru penggerak dan merdeka belajar yang diterbitkan Menteri Pendidikan Nadiem Makarim menjadi kebijakan yang baik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentunya pembelajaran juga harus menerapkan Project-based Learning) dan High Order Thinking Skill.\u00a0 Dengan penerapan HOTS dan PBl diharapkan siswa mampu memecahkan masalah dengan tahapan ilmiah serta membangun mental agar tidak mudah menyerah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKita bisa mempersiapkan siswa dalam menghadapi masa depan yang semakin kompetitif,\u201d kata Dr. Debby.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Generasi Emas di Tangan Guru<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu Dr. Hamidah juga memaparkan peran guru dalam menghadapi Abad 21. Dr. Hamidah mengingatkan bahwa guru berperan sebagai penentu dalam keberhasilan pendidikan.\u00a0 Ada delapan peran mulia seorang guru yaitu sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pengelola pembelajaran, model dan teladan, administrator, inovator, pendorong kreativitas.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Di sekolah bukan hanya tugas (guru) hanya memberikan pelajaran juga sebagai pendorong kreativitas,&#8221; kata Dr. Hamidah.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Guru di era revolusi Industri 4.0 sudah memasuki era digital. Pembelajaran banyak dilakukan juga dengan virtual. Guru juga melakukan Penyesuaian melalui model dan alat yang digunakan. Guru harus memiliki semangat mengajar yang tinggi dan memiliki kemampuan mengajar yang inovatif. Digitalisasi ini harus digunakan dalam pengajaran dan juga evaluasi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Jika diterapkan guru dapat mempersiapkan generasi yang unggul,&#8221; jelas Dr. Hamidah<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>EDURANEWS, JAKARTA-\u00a0 Ikatan Alumni S3 Manajemen Pendidikan Pascasarjana UNJ mengadakan webinar bertajuk &#8220;Guru Hebat untuk Generasi Unggul Menuju Indonesia Emas&#8221; (27\/11). Webinar ini sekaligus memperingati hari Guru Nasional dan PGRI yang ke 76. Menghadirkan Prof. Henry Eryanto, Dr. Encik Abdul Hajar, Dr. Debby Andriany dan Dr. Hamidah dan dimoderatori oleh Dr. Marganda Sitohang. Webinar ini [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3629,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":""},"categories":[20,8],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3628"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3628"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3628\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3634,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3628\/revisions\/3634"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3629"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3628"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3628"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3628"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}