{"id":3604,"date":"2021-11-17T21:13:50","date_gmt":"2021-11-17T14:13:50","guid":{"rendered":"http:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/?p=3604"},"modified":"2021-11-17T21:13:50","modified_gmt":"2021-11-17T14:13:50","slug":"guru-pencetak-wirausaha","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/2021\/11\/17\/guru-pencetak-wirausaha\/","title":{"rendered":"Guru Pencetak Wirausaha"},"content":{"rendered":"<p>Dalam pertemuan negara G20, 2021 di Roma, kemarin telah menghasilkan\u00a0\u00a0 butir-butir kesepakatan antara lain di bidang ekonomi dan produktifitas sepakat bahwa Transformasi digital berpotensi dapat meningkatkan produktivitas, hal ini harus terus didorong dalam upaya\u00a0 memperkuat pemulihan dan berkontribusi pada kemakmuran berbasis luas dan bersama. Peran teknologi dan inovasi sangat vital sebagai penggerak utama bagi pemulihan global dalam pembangunan berkelanjutan.\u00a0\u00a0 Kebijakan untuk menciptakan ekonomi digital\u00a0 memungkinkan, adanya\u00a0 aksesibilitas atau inklusif, terbuka, adil, dan tidak diskriminatif. Penerapan teknologi baru, ahrus terus didorong, karena\u00a0 memungkinkan bisnis dan pengusaha berkembang,\u00a0 melindungi dan memberdayakan konsumen, sambil terus mengatasi tantangan yang terkait dengan aspek privasi, perlindungan data, intelektual hak milik, dan keamanan.<\/p>\n<p>Mengingat perlunya mendukung inklusi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)\u00a0 yang lebih baik ke dunia digital ekonomi, negara harus berkomitmen untuk memperkuat tindakan\u00a0\u00a0 menuju digital transformasi produksi, proses, layanan, dan model bisnis. Dengan mempertimbangkan kebutuhan spesifik UMKM dan start-up maka perlu terus\u00a0 mendorong persaingan dan inovasi, seperti dalam hal keragaman dan inklusi, dan\u00a0 mempromosikan penelitian, pengembangan dan penerapan <em>Artificial intelejen<\/em>.<\/p>\n<p>Peran pendidikan tidak dapat dipisahkan dengan berbagai aspek pengembangan ekonomi UMKM dengan model bisnis digital. Pendidikan harus dapat menjadi\u00a0 alat penting untuk inklusif dan berkelanjutan dalam pemulihan ekonomi paska pandemi. Mudah-mudahan pemerintah merespons dengan cepat dalam mendorong pertumbuhan ekonomi paska pandemi.<\/p>\n<p>Mendorong institusi pendidikan dalam merespon digitalisasi bisnis di UMKM, sepertinya dapat menjadi pilihan. Seperti diketahui tugas pendidikan adalah menyiapkan sumber daya yang berkualitas untuk meneruskan pembangunan, sehingga pemerintah menempatkan pendidikan sebagai prioritas pembangunan yang berkelanjutan yang mampu menciptakan sumber daya manusia yang unggul pada tataran dunia yang semakin mengglobal. Setiap tingkat dan jenis pendidikan diharapkan mampu mencapai fungsi pendidikan nasional dari berbagai aspek. Tingkat dan jenis pendidikan yang sekarang menjadi sorotan adalah pendidikan kejuruan atau SMK. Dimana diharapkan lulusannya sudah siap memasuki dunia kerja.<\/p>\n<p>Lulusan SMK wajib memiliki keterampilan yang mumpuni agar dapat bersaing di dunia usaha dan dunia kerja. Salah satu keterampilan yang harus dimiliki siswa SMK adalah keterampilan berwirausaha. Keterampilan berwirausaha adalah sebuah kemampuan yang dimiliki seseorang sebagai bentuk penguasaan pengetahuan dan menerapkan pada kegiatan nyata dalam kehidupannya. Penguasaan keterampilan berwirausaha ini sesuai dengan tujuan Sekolah Menengah Kejuruan.<\/p>\n<p>Dalam rangka menghasilkan lulusan yang memiliki jiwa wirausaha yang tinggi, maka perlu dikembangkan model pembelajaran atau pun sebuah program yang dapat menumbuhkan jiwa wirausaha. Ada beberapa program yang dikembangkan di SMK seperti <em>Technopark<\/em>, <em>Teaching Factory<\/em>, Koperasi Sekolah, Sekolah Pencetak Wirausaha, dan sebagainya. Salah satu program di SMK yang cukup mendukung adalah Sekolah Pencetak Wirausaha atau yang sering disingkat dengan sebutan SPW. Program ini berguna sebagai wadah serta sarana untuk menumbuhkan jiwa berwirausaha. Dengan adanya program SPW ini di sekolah diharapkan dapat meningkatkan keterampilan siswa dalam berwirausaha.<\/p>\n<p>&#8220;Program Sekolah Pencetak Wirausaha ini untuk mengintegrasikan konsep BMW yaitu bekerja, melanjutkan studi, wirausaha,&#8221; ujar Kepala Subdirektorat Kurikulum Direktorat Pembinaan SMK, Mochamad Widiyanto, di kegiatan Bimbingan Teknis Bantuan Pengembangan Pembelajaran Kewirausahaan, Bandung (5\/6\/2018). Pada masa mendatang diharapkan agar rekan-rekan pengajar kewirausahaan dapat memahami potensi siswanya dan mau terus mengembangkan diri. Pola pikir wirausaha harus dibentuk dengan literasi yang baik dan keberanian melakukan atau mempraktekan, dan melakukan terobosan,\u00a0\u00a0 dengan memanfaatkan berbagai perkembangan teknologi informasi. \u00a0Berbisnis berbasis digital sudah mulai dikenal dalam berbagai level usaha, digital bisnis telah membuat berbagai level usaha memiliki akses yang sama. Hal ini membuat keterbukaan usaha bagi para pebisnis pemula.<\/p>\n<p>Guru SMK, memiliki peran strategis dalam mencetak wirausaha baru,\u00a0\u00a0 para guru dapat membangun ekosistem bisnis namun ketika tidak dapat membangun eko sistem bisnis sendiri, guru dapat menggunakan aplikasi yang sudah ada<\/p>\n<p>Ada sebuah startup dengan nama Madaber, sebuah Aplikasi bisnis UMKM\u00a0 Madaber (Maju Dagang Bersama) dengan merk dagang MdB, adalah usaha rintisan (<em>startup<\/em>) dalam <strong>binaan inkubator LPPM UNJ<\/strong>,\u00a0 yang membuat aplikasi\/platform digital\u00a0 \u00a0yang mencoba untuk mengakomodasi semua persoalan pokok dalam membangun ekosistem usaha terutama UMKM.<\/p>\n<p>Seandainya\u00a0 pandemi covid berakhir, kebangkitan usaha diperkirakan akan terjadi. Para pengusaha akan merajut kembali hubungan\u00a0 dengan mitra bisnisnya. Namun akibat pandemi, para mitra bisnis\u00a0 mungkin saja sudah banyak yang bangkrut, kekurangan modal atau berganti usaha. Khusus UMKM dimana memiliki populasi yang sangat besar, memiliki problem yang sama, Kekurangan modal, karena modalnya habis untuk keperluan menutup kerugian bisnisnya, demikian pula dengan penjualan yang sepi akibat berbagai pembatasan operasi usaha.<\/p>\n<p>Secara umum \u00a0permasalahan UMKM,\u00a0 \u00a0masih tetap berkutat pada \u00a0\u00a0akses pemasaran seluas-luasnya, aksesibilitas terhadap permodalan baik dari sumber perbankan maupun <em>crowd funding<\/em>, akses kemudahan memperoleh bahan baku dengan harga kompetitif, memerlukan bimbingan yang tepat guna, pengendalian usaha, dan terbukanya kemitraan dengan berbagai pihak.<\/p>\n<p>Paska pandemi, pemerintah berkepentingan membina pengusaha, khususnya kelas Usaha mikro. Pemerintah sepertinya akan berusaha mendorong perekonomiannya,\u00a0\u00a0 dengan memberi stimulus permodalan melalui pengglontoran dana kredit usaha, khsusnya untuk usaha UMKM, untuk tahun 2021 sebesar 161 triliun. Namun untuk tahun 2022 hanya dianggarkan 22 triliun.\u00a0 Untuk\u00a0 menyalurkan\u00a0 kredit\u00a0 secara masif, tepat sasaran dalam waktu singkat tentu saja\u00a0 pemerintah membutuhkan peran chanelling kredit yang handal, karena tidak dapat mengandalkan bank yang memiliki cakupan terbatas, dengan skala kredit yang sangat mikro atau \u201cprintilan\u201d.<\/p>\n<p>MdB adalah aplikasi yang akan menggarap berbagai aspek UMKM secara terintegrasi, mulai dari aspek pasar, manajemen, pengadaan bahan baku, akses kredit, kepada bank atau \u00a0<em>Crowd funding<\/em>, akses kerja sama bisnis dan berbagai informasi bagi UMKM yang berhubungan dengan pembinaan. Dalam platform MdB akan menggandeng beberapa fihak\u00a0 yang terlibat berkaitan dengan UMKM, sebagai mitra dalam satu ekosistem bisnis yang saling menguntungkan. Nilai tambah dalam ekosistemnya, antara lain<\/p>\n<ul>\n<li>UMKM sendiri memiliki kebutuhan perluasan pasar, bahan baku, permodalan,dan<\/li>\n<li>Konsumen, sebagai pembeli produk UMKM<\/li>\n<li>Perbankan, sebagai pemberi pinjaman dan fintech<\/li>\n<li>Kreditor\/ventura \/<em>angel investor\/crowd funding<\/em>, sebagai calon kemitraan dalam membantu \u00a0penyaluran kredit atau permodalannya.<\/li>\n<li>Pabrikan, sebagai supplier bahan baku terhadap kebutuhan UMKM<\/li>\n<li>Perusahaan Logistic , sebagai pendistribusi fisik arus barang<\/li>\n<li>Kalangan Industri yang menginginkan mitra bisnis UMKM<\/li>\n<li>Pemerintah, sebagai Pembina UKM berupa pelatihan dan perijinan<\/li>\n<li>UMKM menampilkan profile\u00a0 bisnisnya sehingga \u00a0membuka kemitraan dengan pihak-pihak lainnya<\/li>\n<\/ul>\n<p>Melihat tingkat kompetisi startup aplikasi\u00a0 yang berorientasi pasar sudah banyak, dari yang besar, sampai yang berskala kecil,\u00a0 namun aplikasi yang\u00a0 menggabungkan rantai pasokan, seperti Madaber sebenarnya sangat diperlukan dalam kawasan bisnis terbatas, menjadi aplikasi yang dapat mengkoneksi para pebisnis yang bergabung pada kawasan atau berbasis komunitas tertentu. Peran pemerintah di level daerah (Pemda) sebagai pembina UMKM mungkin dapat mulai menginisiasinya.<\/p>\n<p>Menggunakan guru-guru SMK sebagai motivator usaha di kalangan pelajar\u00a0 mungkin menjadi salah satu pilihan untuk menciptakan wirausaha baru\u00a0\u00a0 dikalangan anak muda, dan memulainya dengan menggunakan aplikasi MDB sebagai media pembelajarannya. Sehingga\u00a0 guru dapat membantu sekolah SMK dalam mewujudkan sekolah sebagai pencetak wirausaha.<\/p>\n<p><em>*Penulis adalah dosen Fakultas Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta<\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Dalam pertemuan negara G20, 2021 di Roma, kemarin telah menghasilkan\u00a0\u00a0 butir-butir kesepakatan antara lain di bidang ekonomi dan produktifitas sepakat bahwa Transformasi digital berpotensi dapat meningkatkan produktivitas, hal ini harus terus didorong dalam upaya\u00a0 memperkuat pemulihan dan berkontribusi pada kemakmuran berbasis luas dan bersama. Peran teknologi dan inovasi sangat vital sebagai penggerak utama bagi pemulihan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3608,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":""},"categories":[15],"tags":[437,438,439],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3604"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3604"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3604\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3609,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3604\/revisions\/3609"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3608"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3604"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3604"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3604"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}