{"id":3306,"date":"2021-10-07T17:44:07","date_gmt":"2021-10-07T10:44:07","guid":{"rendered":"http:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/?p=3306"},"modified":"2021-10-14T14:13:02","modified_gmt":"2021-10-14T07:13:02","slug":"prof-muktiningsih-diperlukan-metode-yang-cepat-akurat-dan-efisien-dalam-penanganan-keracunan-makanan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/2021\/10\/07\/prof-muktiningsih-diperlukan-metode-yang-cepat-akurat-dan-efisien-dalam-penanganan-keracunan-makanan\/","title":{"rendered":"Prof. Muktiningsih: Diperlukan Metode Cepat, Akurat dan Efisien dalam Penanganan Keracunan Makanan"},"content":{"rendered":"<p><b>EDURANEWS, JAKARTA-<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Prof.Muktiningsih menilai kasus keamanan makanan terutama\u00a0 keracunanan makanan dari tahun ke tahun marak terjadi. Kasus keracunan makanan juga masuk ke dalam Kasus Luar Biasa (KLB) mengingat korbannya dalam jumlah besar.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Fenomena keracunan makanan dan cara penanganan dipaparkan Prof. Muktiningsih dalam orasi ilmiah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cPotensi Kit Pendeteksi Bakteri Penyebab Keracunan Pangan dalam Memperkuat Kemandirian Bangsa\u201d di Aula Latief Hendraningrat<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (7\/10).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cSangat diperlukan kolaborasi dan penanganan yang efisien,\u201c ucap Prof. Muktiningsih menekankan pada kolaborasi antar lini dalam mengurai masalah keracunan makanan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keracunan makanan adalah penyakit yang disebabkan karena mengkonsumsi makanan yang mengandung bahan berbahaya\/toksik atau terkontaminasi. Kini ada 31 jenis bakteri penyebab keracunan makanan diantaranya yang sering ditemukan adalah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Salmonella enterica spesies. <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">shigella spesies, Campylobacter dan lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKarena Karakteristik yang dimiliki bakteri sangat diperlukan metode deteksi yang tepat,\u201c ujar Prof. Muktiningsih agar mendapatkan akurasi dalam penanganan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Di negara berkembang seperti Indonesia, kasus keracunan makanan diakibatkan karena faktor sanitasi, fasilitas, pengetahuan masyarakat serta pola hidup. Keracunan makanan yang marak dan berulang kali terjadi diperlukan cara metode detektif yang mampu mengurai masalah ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Mengembangkan Metode Baru<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Metode deteksi yang cepat mutlak harus dilakukan dalam menangani keracunan makanan. Metode deteksi yang digunakan sangat berpengaruh dalam kecepatan\u00a0 sensitivitas, spesifisitas dan kesesuaian sampel uji.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cDalam proses deteksi korban keracunan, industri pangan, terutama untuk menentukan bakteri patogen pada olah makanan,\u201d ucap Prof. Muktiningsih yang merupakan guru besar bidang Ilmu Biokimia FMIPA UNJ.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Muktiningsih mengatakan metode deteksi yang ideal memiliki 5 ciri yaitu ;\u00a0 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">spesifisitas tinggi yang hanya mendeteksi bakteri uji, sensitivitas tinggi yang mampu mendeteksi pada konsentrasi yang sangat rendah, memberikan hasil uji pada waktu yang singkat, dapat dilakukan\u00a0 secara sederhana yang tidak memerlukan teknik sampling yang rumit dan menngunakan special instrumen yang kompleks, dan biayanya murah.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Muktiningsih bersama Tim Salmonella UNJ telah mengembangkan metode deteksi bakteri penyebab keracunan pangan berbasis<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> Nucleic acid-based methods (genomik).\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cNucleic acid-based methods <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">memiliki sensitifitas tinggi sehingga menghasilkan kualitas deteksi yang baik,\u201d papar Prof. Muktiningsih.\u00a0\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejak tahun 2016 Prof. Muktiningsih dan Tim Salmonella UNJ telah melakukan pelbagai tahap pengembangan Kit mulai dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Analisis in silico Genome<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sampai dengan pengembangan model <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Kit Deteksi Foodborne Pathogen<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Salah satu hasil pengembangan prototype adalah Kit pendeteksi bakteri Salmonella typhi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"wp-image-3308 aligncenter\" src=\"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/20211007_173503-300x188.jpg\" alt=\"\" width=\"394\" height=\"247\" srcset=\"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/20211007_173503-300x188.jpg 300w, https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/20211007_173503-1024x642.jpg 1024w, https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/20211007_173503-768x482.jpg 768w, https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/20211007_173503-1536x964.jpg 1536w, https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/20211007_173503-2048x1285.jpg 2048w, https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/20211007_173503-696x437.jpg 696w, https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/20211007_173503-1068x670.jpg 1068w, https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/20211007_173503-670x420.jpg 670w, https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/20211007_173503-1920x1204.jpg 1920w\" sizes=\"(max-width: 394px) 100vw, 394px\" \/><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Kit Deteksi bakteri S. typhi ini telah terdaftar dalam inkubator Bisnis LLPM UNJ. Prototype itu terdiri dari Master diagnostik Salmonella typhi (10 reaksi berwarna kuning), Kontrol Positif Salmonella typhi (10 reaksi berwarna merah muda), Kontrol Negatif Salmonella typhi (10 reaksi berwarna biru), Nuclease free water (berwarna hijau).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sejauh ini Prof. Muktiningsih dan Tim Salmonella UNJ\u00a0 telah menghasilkan empat publikasi dan satu buah paten.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Hafid Abbas mengapresiasi hasil penelitian Prof. Muktiningsih dan Tim Salmonella UNJ yang telah melakukan penelitian Kit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cHemat saya temuan ini pantas dan dapat diajukan untuk nobel di bidang kimia,\u201d ucap Prof. Hafid Abbas. <\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>EDURANEWS, JAKARTA- Prof.Muktiningsih menilai kasus keamanan makanan terutama\u00a0 keracunanan makanan dari tahun ke tahun marak terjadi. Kasus keracunan makanan juga masuk ke dalam Kasus Luar Biasa (KLB) mengingat korbannya dalam jumlah besar.\u00a0 Fenomena keracunan makanan dan cara penanganan dipaparkan Prof. Muktiningsih dalam orasi ilmiah \u201cPotensi Kit Pendeteksi Bakteri Penyebab Keracunan Pangan dalam Memperkuat Kemandirian Bangsa\u201d [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3307,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":""},"categories":[20,8],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3306"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3306"}],"version-history":[{"count":6,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3306\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3315,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3306\/revisions\/3315"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3307"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3306"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3306"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3306"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}