{"id":3268,"date":"2021-10-06T16:19:41","date_gmt":"2021-10-06T09:19:41","guid":{"rendered":"http:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/?p=3268"},"modified":"2021-10-14T14:03:44","modified_gmt":"2021-10-14T07:03:44","slug":"prof-harya-kuncara-kita-perlu-membangun-kredibilitas-kebijakan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/2021\/10\/06\/prof-harya-kuncara-kita-perlu-membangun-kredibilitas-kebijakan\/","title":{"rendered":"Prof. Harya Kuncara:\u00a0Kita Perlu Membangun Kredibilitas Kebijakan"},"content":{"rendered":"<p><b>EDURANEWS, JAKARTA-<\/b><span style=\"font-weight: 400;\"> Perkembangan ilmu ekonomi modern sejak abad 18 hingga hari ini mencatat peran pemerintah masihlah relevan. Peran pemerintah itu dapat dilihat dari kebijakannya fiskalnya. Keterlibatan pemerintah dalam perekonomian pada tataran tertentu mampu mengefisienkan aktivitas ekonomi sektor privat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Namun kegagalan intervensi juga membayangi setiap menjalankan kebijakan dalam menjalankan perekonomian. Sebagai contoh Amerika Latin di tahun 1980-an dan Jepang yang terpuruk di tahun 1990-an yang harus ditebus dengan kebijakan lanjutan yang lebih mahal. Prof. Harya Kuncara mengurai lebih jauh bagaimana peran pemerintah itu dalam pemulihan ekonomi dalam orasi ilmiah di Aula Latief (6\/10).\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Harya Kuncara Wiralaga menekankan mengenai peran pemerintah itu dalam orasi ilmiah berjudul<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u201cMewujudkan Kredibilitas Fiskal dalam Rangka Pemulihan Ekonomi\u201d<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Prof. Harya Kuncara banyak mendedahkan pemikirannya mengenai kredibilitas fiskal.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Menurut Prof. Arya Kuncara ada dua aliran utama yang mempengaruhi pemerintah\u00a0 dalam kebijakan fiskalnya. Yang pertama adalah kebijakan fiskal yang berbasis aturan, kedua kebijakan fiskal yang berbasis diskresi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cAliran ekonomi manapun nampaknya mendukung berbasis kebijakan fiskal yang berbasis aturan,&#8221; ucap Prof. Harya Kuncara menekankan.<\/span><\/p>\n<p><b>Kredibilitas Fiskal<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Amatan Prof. Harya Kuncara, jika melihat dari sisi kebijakan fiskal yang berbasis aturan maka turunan yang penting dari kebijakan fiskal itu adalah atribut kebijakannya. Kebijakan fiskal pun berada di persimpangan jalan antara ranah ilmu ekonomi dan politik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Yang menarik adalah ketika kredibilitas kebijakan fiskal ini sering diklaim oleh politisi sebagai<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> \u2018stempel persetujuan\u2019<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> atas program dan kebijakan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p>Kebijakan fiskal pemerintah dapat memberikan gambaran detail mengenai langkah dalam jalannya roda perekonomian, juga langkag dalam menghadapi krisis.\u00a0 <span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum pandemi rasio defisit tata tidak melebihi 3% dari amanat undang-undang\u00a0 begitu juga rasio hutang.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKita diajak untuk melihat ke depan, \u201c kata Prof. Harya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"> Tantangan\u00a0 ekonomi eksternal sudah disiapkan konstruksinya.\u00a0 Di Indonesia salah satunya adalah dalam penyusunan APBN, suku bunga, inflasi,\u00a0 perpajakan, rasio defisit.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Harya Kuncara mengatakan apakah ketaatan dalam rules menjamin kredibilitas fiskal itu sendiri.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKetaatan kita pada rules ternyata tidak menjamin kredibilitasnya,\u201d kata Prof. Harya Kuncara menekankan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Artinya kebijakan fiskal yang tadinya mengacu rencana dalam implementasinya mengacu kepada kebutuhan politisi. Kebijakan fiskal yang tadinya untuk stabilisasi menjadi destabilisasi. Indikasi yang penting salah satunya adalah implikasi ekonomi mengenai Krisis yang berulang dan tergopoh-gopoh ketika IMF gagal memprediksi krisis.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">\u201cKarena kita tidak punya <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">rules base policy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan kredibilitas kebijakannya,\u201d kata Prof. Haryo menekankan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Maka diperlukan membangun\u00a0 kredibilitas kebijakan bukan ketaatan lagi<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\"> rules base policy<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0 Tantangannya adalah membangun dan mengelola kredibilitas atau kepercayaan itu. <\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>EDURANEWS, JAKARTA- Perkembangan ilmu ekonomi modern sejak abad 18 hingga hari ini mencatat peran pemerintah masihlah relevan. Peran pemerintah itu dapat dilihat dari kebijakannya fiskalnya. Keterlibatan pemerintah dalam perekonomian pada tataran tertentu mampu mengefisienkan aktivitas ekonomi sektor privat. Namun kegagalan intervensi juga membayangi setiap menjalankan kebijakan dalam menjalankan perekonomian. Sebagai contoh Amerika Latin di tahun [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":3269,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":""},"categories":[20,8],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3268"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=3268"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3268\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":3317,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/3268\/revisions\/3317"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/3269"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=3268"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=3268"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=3268"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}