{"id":2370,"date":"2021-06-15T13:28:01","date_gmt":"2021-06-15T06:28:01","guid":{"rendered":"http:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/?p=2370"},"modified":"2026-02-15T11:10:23","modified_gmt":"2026-02-15T04:10:23","slug":"orasi-ilmiah-tiga-guru-besar-unj-perspektif-pendidikan-dari-konselingtransformasi-pembelajaran-ips-dan-literasi-membaca-permulaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/2021\/06\/15\/orasi-ilmiah-tiga-guru-besar-unj-perspektif-pendidikan-dari-konselingtransformasi-pembelajaran-ips-dan-literasi-membaca-permulaan\/","title":{"rendered":"Orasi Ilmiah Tiga Guru Besar UNJ : Perspektif Pendidikan dari Konseling,Transformasi Pembelajaran IPS dan Kemampuan Membaca Permulaan"},"content":{"rendered":"<p><b>EDURANEWS, JAKARTA- <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Tiga guru besar telah ditetapkan di<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">Aula Latief Universitas Negeri Jakarta (15\/6). Ketiga guru besar itu adalah Prof. Fahrurrozi, Prof. Awaluddin dan Prof. Arifin Maksum. Pengukuhan ini ditandai dengan orasi ilmiah yang sangat penting membaca perkembangan pendidikan kontemporer hari ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Awaludin mengawali orasi ilmiah dengan tema <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam penguatan Karakter Peserta Didik Menghadapi Abad 21&#8221;<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0 Ada pergeseran paradigma dalam pendekatan bimbingan dan konseling era kontemporer ini yakni lebih ke arah perkembangan dan preventif. Bimbingan yang komprehensif memfasilitasi perkembangan peserta didik dalam aspek perkembangan akademik, sosial dan perencanaan karir.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Awaludin menjelaskan bahwa dalam implementasi pendekatan harus menekanan kolaborasi antara konselor dengan komunitas sekolah, orang tua, dan pihak lainnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Program bimbingan di sekolah diarahkan kepada upaya memfasilitasi perkembangan potensi siswa,&#8221; ujarnya.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Secara multibudaya dan proses pembelajaran untuk hidup bersama <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">(learning to live together)<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ruang lingkupnya berada pada memandirikan individu dalam menavigasi perjalanan hidup peserta didik. Peran guru konseling sangat penting dalam menjalankan satuan pendidikan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Peran Guru bimbingan konseling sama dengan guru-guru lain,&#8221; tegasnya.<\/span><\/p>\n<p><b>Transformasi Pembelajaran IPS<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Arifin Maksum membawakan orasi ilmiah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Transformasi Pembelajaran IPS Sekolah Dasar dengan Pemanfaatan Teknologi Digital Menyongsong Era Society 5.0&#8221;<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Era 4.0 yang ditandai dengan perkembangan teknologi yang begitu cepat membawa permasalahan sosial yang menyangkut budaya kekerasan, perbedaan, ras, agama dan gender.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Revolusi industri 4.0 dan era society 5.0 bukanlah ancaman,&#8221; ucapnya. Diperlukan pembelajaran sosial untuk mengurai permasalahan sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Arifin Maksum menjelaskan pembelajaran IPS bagi peserta didik sekolah dasar menjadi sangat penting. Namun pembelajaran IPS yang selalu dianggap pelajaran yang verbalistik harus bertransformasi menjadi <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">meaningfull learning<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan berorientasi pada kecakapan hidup abad 21.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Perspektif baru diperlukan,&#8221; ucap Prof. Arifin Maksum.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Transformasi digital juga telah membentuk partisipasi warga sehari-hari. Dalam pembelajaran IPS isu digital menjadi pembahasan penting.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Pendidikan IPS dengan pendekatan digital dapat menyentuh sisi emosional,&#8221; ucap Prof. Arifin Maksum. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Langkah baru sebagai alternatif diperlukan dengan pendekatan digital. Pembelajaran IPS di sekolah dasar pun diharapakan\u00a0 dapat menyongsong era industri 5.0 ini.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><b>Kemampuan Membaca Permulaan<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Fahrurrozi membawakan orasi ilmiah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Model penilaian Kemampuan Membaca Permulaan Siswa Kelas Awal Sekolah Dasar&#8221;.\u00a0<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia termasuk yang paling rendah dalam melek huruf. Tidak adanya kemampuan membaca menyebabkan minat membaca menjadi rendah.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Inilah mengapa kemampuan literasi membaca bagi siswa kelas awal penting diperhatikan oleh guru. Kemampuan membaca adalah kemampuan unik karena tahap inilah anak akan memiliki kemampuan dalam menyerap ilmu dan pengetahuan. Terutama dalam pembelajaran membaca permulaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\"> BACA JUGA : <a style=\"color: #0000ff;\" href=\"https:\/\/breakingnewgroundproject.org\/\">breakingnewgroundproject<\/a> <\/span>\\<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Hasil penelitian kemampuan membaca lanjutan sangat rendah,&#8221; ucap Prof. Fahrurozi. Ini disebabkan karena kemampuan pembelajaran membaca permulaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Fahrurozi menjelaskan kesalahan dalam pembelajaran membaca permulaan sering terjadi karena belum dapat membaca tulisan atau lambang bunyi dengan baik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Dalam membaca bukan hanya mampu membunyikan tetapi bagaimana siswa mampu membunyikan dengan jelas serta jeda yang sangat jelas,&#8221; ucapnya. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Guru harus menyadari ada langkah-langkah dalam pembelajaran membaca permulaan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Yang tepat untuk belajar membaca permulaan adalah di kelas satu sekolah dasar,&#8221; jelas Prof. Fahrurrozi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Fahrurrozi juga menjelaskan pentingnya guru memiliki formulasi penilaian terhadap perkembangan membaca pada siswa SD.\u00a0 Model penilaian membaca itu terdiri dari\u00a0 tiga komponen penting yakni <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">visual memory<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">phonological<\/span><\/i> <i><span style=\"font-weight: 400;\">memory<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">, dan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">semantic memory<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Membaca sambil bermain dengan kartu bergambar adalah salah satu cara yang paling cocok untuk anak. Lambang grafis membantu anak dalam memiliki <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">visual memory<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selain itu proses pemahaman juga terjadi dalam pembunyian kosa kata. Dalam hal ini yang diasah yakni keterampilan membaca.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Ketika berharap anak memiliki kemampuan membaca permulaan langkah-langkah ini menjadi penting,&#8221; kata Prof. Fahrurrozi.<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>EDURANEWS, JAKARTA- Tiga guru besar telah ditetapkan di Aula Latief Universitas Negeri Jakarta (15\/6). Ketiga guru besar itu adalah Prof. Fahrurrozi, Prof. Awaluddin dan Prof. Arifin Maksum. Pengukuhan ini ditandai dengan orasi ilmiah yang sangat penting membaca perkembangan pendidikan kontemporer hari ini.\u00a0 Prof. Awaludin mengawali orasi ilmiah dengan tema &#8220;Peran Guru Bimbingan dan Konseling dalam [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2373,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":""},"categories":[20,8],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2370"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2370"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2370\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":8198,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2370\/revisions\/8198"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2373"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2370"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2370"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2370"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}