{"id":2309,"date":"2021-06-08T12:35:28","date_gmt":"2021-06-08T05:35:28","guid":{"rendered":"http:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/?p=2309"},"modified":"2021-06-08T14:00:45","modified_gmt":"2021-06-08T07:00:45","slug":"orasi-ilmiah-prof-komarudin-pembelajaran-ppkn-kunci-persemaian-toleransi-sosial","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/2021\/06\/08\/orasi-ilmiah-prof-komarudin-pembelajaran-ppkn-kunci-persemaian-toleransi-sosial\/","title":{"rendered":"Orasi Ilmiah, Prof. Komarudin : Pembelajaran PPKn Kunci Persemaian Toleransi Sosial"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b>EDURANEWS, JAKARTA- <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Aula Latief Hendraningrat menjadi saksi penting dalam pengukuhan 22 guru besar tetap UNJ (8\/6). Pengukuhan ini menjadi kado terindah Dies Natalies UNJ ke 57. Kehadiran 22 guru besar ini menandakan UNJ terus menciptakan para akademisi penting dalam pelbagai bidang keilmuan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pengukuhan Guru Besar ini\u00a0 diselenggarakan secara daring dan luring. Peserta yang hadir luring mengikuti prosesi penetapan guru besar mengikuti protokol kesehatan yang ketat.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Komarudin, rektor UNJ menjadi pembuka orasi ilmiah sebagai pertanggungjawaban secara keilmuan\u00a0 di bidang Evaluasi Pembelajaran Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Komarudin membawakan orasi ilmiah dengan judul, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Toleransi Sosial: Persemaian dan Pengukurannya dalam Pembelajaran PPKn&#8221;.<\/span><\/i><\/p>\n<p><i> <\/i><span style=\"font-weight: 400;\">Sebelum orasi, Prof. Komarudin membacakan pantun yang membuat isi ruang sidang penuh canda dan tawa.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Komarudin menjelaskan bahwa substansi orasi ilmiah ini merupakan sintesis antara pengalaman Tridharma Pendidikan Tinggi, khususnya penelitian-penelitian dalam diskursus teori tentang evaluasi pembelajaran domain afektif, khususnya mengenai toleransi sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Ada tiga sintesis penting yang diungkapkan Prof. Komarudin dalam penelitiannya. <em>Pertama<\/em>, konstruksi dimensi dan indikator toleransi sosial. <em>Kedua,<\/em> instrumen baku pengukur toleransi sosial. <em>Ketiga,<\/em> aplikasi pengolahan data mengukur indeks toleransi sosial. Ketiga sintesis inilah menjadi kunci serta kebaruan atau novelty yang didapatkan Prof. Komarudin dalam penelitiannya.<\/span><\/p>\n<p><b>Penting Pembelajaran PPKn<\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Masyarakat Indonesia yang plural-multikultural ini mempunyai ragam etnik, agama, sosial, ideologi, politik dan lainnya. Keragaman inilah yang mendapatkan tantangan mengenai soal toleransi sosial.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Komarudin menyoroti problematika toleransi sosial. Apalagi tantangan kontemporer hari ini yang datang dari teknologi informasi terutama fenomena media sosial yang ditandai dengan era disrupsi.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Yang dikhawatirkan munculnya disintegrasi,&#8221; tegas Prof. Komarudin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pendidikan menjadi jalan terciptanya masyarakat yang penuh toleransi sosial. Terkhusus mengenai pendidikan formal dalam pembelajaran PPKn. PPKn dipercaya sebagai wahana pengetahuan yang integratif dalam menciptakan kecakapan kewarganegaraan. Prof. Komarudin menyebut secara khusus pengembangan pembelajaran PPKn ini sebagai pedagogi toleransi sosial.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Pendidikan sesungguhnya menjadi lembaga yang pas untuk menumbuhkembangkan toleransi sosial,&#8221; ucap Prof. Komarudin.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Pedagogi toleransi sosial inilah yang diharapkan adanya perubahan sikap dan perilaku yang membentuk habitus dan menciptakan karakter.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Komarudin menyadari betul masyarakat multikultural diperlukan toleransi sosial sebagai sendi berbangsa dan bernegara. Dalam lingkup pendidikan, pembelajaran PPKn menjadi jalan menguatkan nilai toleransi peserta didik.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Selama puluhan tahun Prof. Komarudin mendalami permasalahan ini. Ada tiga dimensi sosial yang ditemukan yaitu agama, etnik dan politik. Pengukuran toleransi sosial pun dilakukan agar mengetahui indeks toleransi sosial. Terutama pengukuran mengenai afektif.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">&#8220;Pengukuran-pengukuran afektif itu menjadi sesuatu yang penting dalam asesmen,&#8221; ucap Prof. Komarudin.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Asimilasi menjadi toleransi paling tinggi. Perbedaan etnik maupun politik diperlukan sikap asimilasi dalam mengurai perpecahan.\u00a0<\/span><\/p>\n<p><em><span style=\"font-weight: 400;\">Prof. Komarudin lahir di Indramayu 1 Maret 1964. Selama menjadi akamedisi, Prof. Komarudin banyak mempublikasin penelitian di pelbagai jurnal ilmiah dan menerbitkan buku. Salah satu buku terbaru Prof. Komarudin adalah &#8220;Kurikulum Berbasis Sekolah : Refleksi Penerapan Kurikulun Melalui Evaluasi Pembelajaran PPKn (UNJ Press, 2020)<\/span><\/em><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; EDURANEWS, JAKARTA- Aula Latief Hendraningrat menjadi saksi penting dalam pengukuhan 22 guru besar tetap UNJ (8\/6). Pengukuhan ini menjadi kado terindah Dies Natalies UNJ ke 57. Kehadiran 22 guru besar ini menandakan UNJ terus menciptakan para akademisi penting dalam pelbagai bidang keilmuan. Pengukuhan Guru Besar ini\u00a0 diselenggarakan secara daring dan luring. Peserta yang hadir [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2312,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":""},"categories":[20,8],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2309"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2309"}],"version-history":[{"count":7,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2309\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2318,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2309\/revisions\/2318"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2312"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2309"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2309"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2309"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}