{"id":2300,"date":"2021-06-07T20:07:07","date_gmt":"2021-06-07T13:07:07","guid":{"rendered":"http:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/?p=2300"},"modified":"2021-06-07T20:15:01","modified_gmt":"2021-06-07T13:15:01","slug":"darul-mi%e1%b9%a1aq-kontribusi-intelektual-untuk-wujudkan-wawasan-dan-toleransi-kebangsaan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/2021\/06\/07\/darul-mi%e1%b9%a1aq-kontribusi-intelektual-untuk-wujudkan-wawasan-dan-toleransi-kebangsaan\/","title":{"rendered":"D\u0101rul M\u1ecb\u1e61\u0101q, Kontribusi Intelektual untuk Wujudkan Wawasan dan Toleransi Kebangsaan"},"content":{"rendered":"<p>EDURA NEWS, JAKARTA &#8211; Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar bedah buku berjudul <em><span class=\"style-scope yt-formatted-string\" dir=\"auto\">D\u0101rul M\u1ecb\u1e61\u0101q<\/span>: Indonesia Negara Kesepakatan<\/em> pada Senin, (7\/6). Buku ini merupakan pemikiran Wakil Presiden RI Prof. Dr. K.H. Ma\u2019ruf Amin mengenai negara kesepakatan.<\/p>\n<p>Prof. Dr. K.H. Ma\u2019ruf Amin dalam sambutannya mengatakan ia mengapresiasi rektor UNJ dan tim penulis buku ini, ia menilai buku ini dapat memberikan kontribusi bagi penyebaran gagasan tentang hubungan Islam dan negara Indonesia dengan pandangan yang moderat.<\/p>\n<p>\u201cSaya menyadari bahwa umat Islam masih perlu mendapatkan penjelasan tentang hubungan antara Islam dan NKRI sebagai bentuk legitimasi keagamaan terhadap negeri ini. Untuk membahasakan legitimasi keagamaan ini saya berusaha untuk menjelaskan kerangka metodologis dalam memahami Islam <em>ahlusunnah wal jamaah<\/em> sebagai paham yang diikuti oleh mayoritas umat Islam di Indonesia,\u201d jelasnya.<\/p>\n<p>Pada sesi diskusi pertama, Staf Khusus Wakil Presiden Prof. Dr. Masykuri Abdillah menyampaikan materi tentang NKRI dalam perspektif Islam mengusung konsep D\u0101rul M\u1ecb\u1e61\u0101q. Ia mengatakan bahwa wawasan kebangsaan secara rasional adalah keniscayaan, begitu juga secara teologis itu juga sesuai dengan ajaran agama, dalam konteks islam itu adalah <em>ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathoniyah, <\/em>dan<em> ukhuwah insaniyah.<\/em><\/p>\n<p>\u201cD\u0101rul M\u1ecb\u1e61\u0101q itu kita harapkan bisa menjadi acuan juga di dalam mewujudkan wawasan kebangsaan dan toleransi kebangsaan, terutama sekali dalam pendidikan PPKN, Pancasila, dan Kewarganegaraan yang ada di universitas-universitas yang dulunya IKIP,\u201d ujar Prof. Dr. Masykuri Abdillah.<\/p>\n<p>Selanjutnya Dr. Rahmat Edi Irawan sebagai ketua tim penulis buku memaparkan secara singkat terkait isi buku <em>D\u0101rul M\u1ecb\u1e61\u0101q<\/em><em>: Indonesia Negara Kesepakatan<\/em><em>. <\/em>Ia memaparkan ada dua alasan mengapa pemikiran mengenai D\u0101rul M\u1ecb\u1e61\u0101q patut dituliskan dan didiskusikan, antara lain karena masih ada masyarakat yang menolak negara dengan landasan Pancasila dan mereka melakukan tindakan-tindakan intoleran.<\/p>\n<p>Ia memaparkan di bagian akhir buku dibahas bagaimana konsep D\u0101rul M\u1ecb\u1e61\u0101q ini menjadi bagian penting dalam pembelajaran di berbagai tingkat dan model pendidikan di Indonesia, serta menjadi rujukan berharga dalam pengajaran Pancasila.<\/p>\n<p>Kemudian Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof. Dr. Azyumardi Azra menyampaikan pengantarnya dalam diskusi buku <em>D\u0101rul M\u1ecb\u1e61\u0101q<\/em><em>: Indonesia Negara Kesepakatan <\/em><em>ini. <\/em>Ia menyampaikan bahwa gagasan D\u0101rul M\u1ecb\u1e61\u0101q merupakan gagasan penting dalam fiqh siyasah (pemikiran politik Islam) Indonesia di masa mutakhir.<\/p>\n<p>\u201cKonsep atau paradigma <em>Dar al-Mitsaq <\/em>sangat relevan dan kontekstual bagi Indonesia multirelijius dan multikultural lebih dari masyarakat Madinah, dengan Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai prinsip \u201c<em>politics of recognition\u201d,\u201d<\/em> ucap Prof. Dr. Azyumardi Azra.<\/p>\n<p>Drs. H. Sahlan, M.Si dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila RI menyampaikan Pancasila sebagai <em>misaqan ghalizha <\/em>bangsa Indonesia. Ia mengatakan pandangan K.H. Ma\u2019ruf Amin ini sangat solutif. Pemikiran ini muncul dari dua kutub pemikiran di kalangan Islam bangsa Indonesia, yakni kutub revivalis radikal dan kutub sekuler liberalis.<\/p>\n<p>Ia juga menyampaikan nilai Pancasila sama dan sebangun dengan nilai agama dan budaya bangsa Indonesia, walau Pancasila tidak dapat mengganti agama. Namun Pancasila bisa menjadi perekat dari semua keragaman bangsa Indonesia, termasuk agama.<\/p>\n<p>Diskusi dilanjutkan dengan paparan dari Dosen Filsafat Ketuhanan STF Driyarkara Dr. Simon Petrus Lili Tjahyadi. Ia mengatakan buku ini memperluas perspektifnya mengenai kekayaan Islam dalam membentuk negara modern.<\/p>\n<p>\u201cSignifikansi buku ini adalah, buku ini merupakan kontribusi intelektual penting soal hubungan Islam dan negara modern dalam konteks keindonesiaan,\u201d ujarnya.<\/p>\n<p>Selanjutnya Direktur Pascasarjana UNJ Prof. Dr. Nadiroh, M.Pd memberikan Bahasa singkat terkait buku ini. Ia memaparkan bahwa kita sebagai warga Indonesia tidak bisa ingkar terhadap kesepakatan final para pendiri bangsa.<\/p>\n<p>Terkait keputusan final tersebut, Prof. Dr. Nadiroh, M.Pd mengutip pidato Bung Karno pada 1 Juni 1945 terkait mufakat. Bung Karno juga sudah mencanangkan bahwa untuk membumikan nilai-nilai pancasila dan NKRI sebagai bentuk NKRI dengan <em>nation character building<\/em>, ujarnya.<\/p>\n<p>Selain dilaksanakan secara luring di Auditorium UTC Lantai 8 Kampus A UNJ, acara bedah buku ini juga disiarkan secara daring melalui Zoom Meeting dan siaran langsung melalui kanal Youtube EDURA TV.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>EDURA NEWS, JAKARTA &#8211; Universitas Negeri Jakarta (UNJ) menggelar bedah buku berjudul D\u0101rul M\u1ecb\u1e61\u0101q: Indonesia Negara Kesepakatan pada Senin, (7\/6). Buku ini merupakan pemikiran Wakil Presiden RI Prof. Dr. K.H. Ma\u2019ruf Amin mengenai negara kesepakatan. Prof. Dr. K.H. Ma\u2019ruf Amin dalam sambutannya mengatakan ia mengapresiasi rektor UNJ dan tim penulis buku ini, ia menilai buku [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":2303,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":""},"categories":[8],"tags":[254,216,255],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2300"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2300"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2300\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":2302,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2300\/revisions\/2302"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/2303"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2300"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2300"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2300"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}