{"id":192,"date":"2020-07-24T06:42:04","date_gmt":"2020-07-24T06:42:04","guid":{"rendered":"http:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/?p=192"},"modified":"2020-08-03T09:30:53","modified_gmt":"2020-08-03T09:30:53","slug":"srihadi-melukis-sejarah","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/2020\/07\/24\/srihadi-melukis-sejarah\/","title":{"rendered":"Srihadi Melukis Sejarah"},"content":{"rendered":"\n<p>Pada hari Sabtu, 20 Februari di Galeri Nasional puluhan orang menunggu gong dibunyikan tanda perayaan bedah buku dimulai. Bedah buku bertajuk&nbsp;<em>Srihadi Soedarsono 70 Years The Journey of Roso<\/em>&nbsp;ini digawangi Jim Supangkat, Jean Couteau, dan &nbsp;Bambang Sugiharto sebagai pembicara. Ingatan-ingatan tentang Srihadi mengenai perjalanannya dalam sejarah melekat pada kertas sebagai medium dokumentasi sejarah mulai bermunculan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bambang Sugiharto mengatakan, karya Srihadi berbasis kertas &nbsp;menjadi penting dalam memasuki &nbsp;dunia spiritualitas. Menurutnya, membuat sketsa adalah kemampuan menangkap rasa. Dalam menangkap rasa inilah, menurut Jean Couteau, Srihadi pernah membuat sketsa kemiskinan era&nbsp; Soekarno sebagai&nbsp; pilihan sosial politiknya.<\/p>\n\n\n\n<p>Penelusuran jauh dilakukan Jim Supangkat mengenai catatan sejarah hidup Srihadi. Dalam&nbsp; buku&nbsp;<em>Srihadi dan Seni Rupa Indonesia<\/em>&nbsp;(2012) karya Jim Supangkat dikatakan,&nbsp; Srihadi &nbsp;lahir dari keluarga priyayi intelektual. Adalah Noto Soeroto yang mempengaruhi pemikiran orang-orang priyayi Jawa &nbsp;saat itu dengan majalah&nbsp;<em>Oedaya.<\/em>&nbsp;Majalah itu mampir di pikiran Soedarsono Atmodarsono, ayah Srihadi. Soedarsono &nbsp;akrab dengan berbagai literatur. Ayahnya memajang lukisan tokoh-tokoh seperti&nbsp; Rabindranath Tagore, dan Mahatma Gandhi yang memikat mata bocah Srihadi. Obrolan-obrolan seni batik, keris, wayang, seta samurai ayah atau&nbsp; kakeknya mempengaruhi kepekaan rasa Srihadi ke depannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi Jim Supangkat, Srihadi mempunyai tempat di sejarah Indonesia. Dalam diri Srihadi terdapat kisah, peristiwa, pergulatan tokoh kebangsaan yang berkelindan dalam bingkai perjalanan seni rupa. Di tangannya kertas-kertas menjadi medium pendokumentasian sejarah berada. Pencatatan sejarah tak melulu berupa foto-foto. Sejarah Indonesia tercatat dalam kertas-kertas tipis. Di sana tampil peristiwa, tokoh, waktu, &nbsp;perjalanan sejarah suatu bangsa. Dalam buku sejarah &nbsp;yang tebal jarang dimuat peran pelukis dalam pergerakan kemerdekaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Maka dari hidup Srihadi, kertas menjadi medium sangat penting dalam pendokumentasian perjalanan sejarah Indonesia. Peran seorang pelukis di zaman pergerakan &nbsp;ada di kisah hidup Srihadi. Tonggak penting Srihadi dalam pencatatan sejarah &nbsp;adalah perekaman jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA 1 Agustus 1947 yang ditumpangi Agustinus Adisutjipto dan dr Abdulrachaman Saleh. Dengan kertas, Srihadi memotret jatuhnya pesawat yang terbelah menjadi dua. Peristiwa itulah yang memicu terjadinya Komisi Tiga Negara yang&nbsp; menjadikan Srihadi tampil sebagai&nbsp; pencatat sejarah perjanjian tersebut lewat&nbsp; kertas dan gambar.<\/p>\n\n\n\n<p>Ketika berumur 17, Srihadi menjadi remaja&nbsp; yang terlibat dalam pendokumentasian wajah tokoh-tokoh republik dalam perjanjian Kaliurang antara Indonesia dan Belanda. Srihadi hadir menjadi wartawan-pelukis Balai Penerangan Tentara Divisi IV. Tercatat sketsa-sketsa wajah dari delegasi perundingan di Kaliurang tersebut. Di situ ada&nbsp; Poppy Djajadiningrat, Abdul Kadir Widjajakusumah. Ada juga&nbsp; sketsa wajah anggota delegasi Belanda Svan Loggem dan Amerika Eugene H Staryhorn.<\/p>\n\n\n\n<p>Masa-masa genting dalam perang, kertas berupa gambar dan sketsa penting diselamatkan lebih dulu daripada&nbsp; hidup Srihadi sendiri. Dia&nbsp; mengaku, \u201cGambar-gambar ini saya simpan dalam kopor tua. Ke mana pun saya pindah, kopor tua ini selalu saya utamakan untuk diselamatkan\u201d (Jim Supangkat, 2012). &nbsp;Kertas gambar dan sketsa &nbsp;berevolusi &nbsp;mencatat perjalanan bangsa.<\/p>\n\n\n\n<p>Godaan menyibak sejarah melalui medium kertas ini bukan saja menjadi peristiwa penting, tetapi juga mengamini pentingnya peran seorang jurugambar semasa&nbsp; revolusi. Nashar mengungkapkan, &nbsp;pelukis menjadi penyebar semangat revolusi melalui gambar-gambar. Dalam buku&nbsp;<em>Nashar Oleh Nashar<\/em>&nbsp;(2002), pelukis Nashar mengatakan, &nbsp;pelukis berjuang melalui kuas. Nashar bergerilya dengan menebar gambar-gambar di sudut-sudut kota. Srihadi juga menyebarkan poster-poster perlawanan di &nbsp;kota Yogyakarta dan Solo.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam sejarah, tercatat lukisan-lukisan suasana perang seperti&nbsp;<em>Seko<\/em>&nbsp;karya Soedjojono,&nbsp;<em>Persiapan Gerilya<\/em>(Dullah),&nbsp;<em>Laskar Rakyat Mengatur Siasat&nbsp;(<\/em>Affandi),&nbsp;<em>Seri Lukisan Pejuang<\/em>&nbsp;(Hendra Gunawan), dan&nbsp;<em>Medan Gerilya Wonosari<\/em>&nbsp;(Kartono Yudhokusumo). Lukisan tersebut perlu ditafsirkan&nbsp; lebih lanjut agar &nbsp;bisa lantang bersuara dalam rekam jejak mentalitas sejarah bangsa.<\/p>\n\n\n\n<h2><strong>Jejak<\/strong><\/h2>\n\n\n\n<p>Bagi Srihadi, kertas merupakan&nbsp; jejak sejarah yang mesti dirawat serius. Dia menjadi&nbsp; medium special, meski bisa&nbsp; lusuh, menguning, dan mudah sobek. &nbsp;Dari kertas Srihadi mencatat&nbsp; perjalanan sejarah dan kebudayaan Indonesia. Ini &nbsp;mesti dirawat. Mudji Sutrisno dalam esainya&nbsp;<em>Membaca Sejarah<\/em>&nbsp;(2015) menuturkan, sejarah mentalitas &nbsp;menuliskan tidak hanya peristiwa dari kejadian sebagai fakta, tetapi mencoba menunjukkan pula struktur nilai bingkai makna yang memberi roh strukturisasi sosial, sistem politik, perilaku ekonomi pelaku-pelakunya individual maupun kolektif.<\/p>\n\n\n\n<p>Kertas yang diselamatkan Srihadi berupa gambar dan sketsa yang merekam&nbsp; perjanjian di Kaliurang dan &nbsp;jatuhnya pesawat Dakota VT-CLA menyimpan cermin mentalitas sejarah. Kertas-kertas itu lantang meneriakkan pembacaan sejarah &nbsp;pergolakan revolusi untuk membaca mentalitas sejarah bangsa. Srihadi mengajarkan &nbsp;tentang revolusi kertas yang berandil &nbsp;dalam pendokumentasian sejarah.<\/p>\n\n\n\n<p>Lalu bagaimana &nbsp;generasi muda harus&nbsp; membaca sketsanya seperti&nbsp;&nbsp;<em>Penggeledahan Rumah Rakyat oleh Tentara Belanda (1948)<\/em>? Dalam diri Srihadi yang saat itu berusia 15 &nbsp;banyak merekam berbagai situasi dan peristiwa pendudukan Belanda atas Yogyakarta tahun 1948. Gambar itu mencerminkan watak &nbsp;KNIL yang anggotanya kebanyakan&nbsp;<em>mercenaries<\/em>&nbsp;&nbsp;banal dan susah diatur. Srihadi menggambarkan watak. Srihadi menghayati&nbsp; peristiwa, tokoh, tempat, dan waktu. Ini persis ucapan&nbsp; Mudji Sutrisno pekerjaan&nbsp; yang ditambah kerja sejarah menjadi etos&nbsp; kebudayaan. Dia&nbsp; hidup karena diberi makna demi&nbsp; keberlangsungan peradaban. Pembacaan sejarah ini agar orang-orang lebih menghayati sebuah sketsa dan lukisan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bagi guru kebudayaan, cermin kertas-kertas &nbsp;Srihadi merupakan&nbsp; jalan pembelajaran sejarah. Bagi siswa, &nbsp;kertas-kertasnya tak lekas berswafoto. Jadi, tetap diperlukan guru-guru kebudayaan yang mampu menggambarkan &nbsp;karyanya dalam bingkai mentalitas sejarah. Dengan begitu,&nbsp; bangsa dapat memahami &nbsp;masa lalu untuk cermin kini ke depan.<\/p>\n\n\n\n<p>*Tulisan ini masuk di Koran Jakarta 2 Februari 2016<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penulis Rianto<\/strong><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pada hari Sabtu, 20 Februari di Galeri Nasional puluhan orang menunggu gong dibunyikan tanda perayaan bedah buku dimulai. Bedah buku bertajuk&nbsp;Srihadi Soedarsono 70 Years The Journey of Roso&nbsp;ini digawangi Jim Supangkat, Jean Couteau, dan &nbsp;Bambang Sugiharto sebagai pembicara. Ingatan-ingatan tentang Srihadi mengenai perjalanannya dalam sejarah melekat pada kertas sebagai medium dokumentasi sejarah mulai bermunculan. Bambang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":379,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"amp_status":""},"categories":[4],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=192"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":194,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/192\/revisions\/194"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media\/379"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=192"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=192"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/edura-news\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=192"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}