{"id":1966,"date":"2024-07-31T12:50:01","date_gmt":"2024-07-31T12:50:01","guid":{"rendered":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/\/unjpress\/?post_type=product&#038;p=1966"},"modified":"2024-07-31T12:50:01","modified_gmt":"2024-07-31T12:50:01","slug":"amir-daud-dan-kisah-kasih-di-bisnis-indonesia","status":"publish","type":"product","link":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/\/unjpress\/product\/amir-daud-dan-kisah-kasih-di-bisnis-indonesia\/","title":{"rendered":"Amir Daud dan Kisah Kasih di Bisnis Indonesia"},"content":{"rendered":"<p>SINOPSIS<\/p>\n<p>Perjalanan hidup Harian Bisnis Indonesia penuh onak dan duri. Setelah mendapatkan SIUPP ternyata tak<br \/>\nmudah mengelola Koran di era Orde Baru. Sampai 3 tahun, Bisnis Indonesia &quot;kembang kempis&quot;. Iklan<br \/>\nsulit didapat. Oplah tidak berkembang pesat. Koran hendak ditutup<br \/>\nKarena di mata pemegang saham koran ini &quot;tidak punya masa depan&quot;, merugi, mereka berniat<br \/>\nmenutupnya. Mereka menghentikan setoran dananya. Itu jauh dari komitmen mereka untuk setor<br \/>\nmodal. Lukman Setiawan, Direktur Utama PT Jurnalindo Aksara Grafika (penerbit Bisnis Indonesia),<br \/>\nkelabakan.<br \/>\nDia lalu mencari pinjaman ke Panin Bank untuk membayar gaji karyawan. Ongkos cetak di Temprint<br \/>\nditangguhkan pembayarannya. Kertas koran utang dulu, bayar belakangan. Alhamdulillah. Bisnis<br \/>\nIndonesia terbit terus.<br \/>\nLS juga berusaha mencari iklan. Berhasil. Tapi kecil saja. Dua &quot;iklan kuping&quot; di samping logo Bisnis<br \/>\nIndonesia, di halaman satu. Pemimpin Redaksi Amir Daud marah besar. Beberapa hari kemudian, dia<br \/>\nmengundurkan diri.<br \/>\nManajemen baru redaksi segera merombak koran. Rubrikasi setiap halaman diubah. Dengan<br \/>\nmenyediakan informasi yang dibutuhkan kalangan pengusaha dan pelaku ekonomi.<br \/>\nPada 1988 terjadi liberalisasi perbankan. Berbagai korporasi ramai-ramai mendirikan bank. Bagai<br \/>\ncendawan tumbuh di musim hujan. Pasar modal juga digenjot. Perusahaan didorong &quot;untuk terjun&quot; ke<br \/>\nbursa. Menjual sebagian saham guna memperoleh dana segar.<br \/>\nDua sektor itu berkembang pesat. Bisnis Indonesia mengambil keduanya sebagai sajian utama.<br \/>\nPelanggan senang. Pengusaha yang hendak menjual saham perdana menjadikan koran ini untuk<br \/>\nmemasang iklan. Besar-besar, hingga 3-4 halaman. Nilainya besar pula. Omzet iklan melejit.<br \/>\nCuma dalam waktu setahun, pendapatan PT JAG melesat. Untung besar.<br \/>\nDi zaman Orde Baru itu, Bisnis Indonesia pernah hendak dibreidel. Gara-gara memuat artikel analisis<br \/>\nAPBN oleh ekonom senior Kwik Kian Gie, di halaman satu. Manajemen &quot;menghadap&quot; Menteri<br \/>\nKehakiman Mayjen Purn Ismail Saleh di kantornya. Koran ini selamat.\u00a0<br \/>\nSaat Bisnis Indonesia maju pesat. Sejahtera. Bonus dibagikan. Dalam setahun pernah bonus dibagikan<br \/>\nhingga tujuh kali. Seluruh karyawan, tentu saja, riang gembira. Tertawa lebar.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>AINOPSIS<\/p>\n<p>Perjalanan hidup Harian Bisnis Indonesia penuh onak dan duri. Setelah mendapatkan SIUPP ternyata tak<br \/>\nmudah mengelola Koran di era Orde Baru. Sampai 3 tahun, Bisnis Indonesia &quot;kembang kempis&quot;. Iklan<br \/>\nsulit didapat. Oplah tidak berkembang pesat. Koran hendak ditutup<br \/>\nKarena di mata pemegang saham koran ini &quot;tidak punya masa depan&quot;, merugi, mereka berniat<br \/>\nmenutupnya. Mereka menghentikan setoran dananya. Itu jauh dari komitmen mereka untuk setor<br \/>\nmodal. Lukman Setiawan, Direktur Utama PT Jurnalindo Aksara Grafika (penerbit Bisnis Indonesia),<br \/>\nkelabakan.<br \/>\nDia lalu mencari pinjaman ke Panin Bank untuk membayar gaji karyawan. Ongkos cetak di Temprint<br \/>\nditangguhkan pembayarannya. Kertas koran utang dulu, bayar belakangan. Alhamdulillah. Bisnis<br \/>\nIndonesia terbit terus.<\/p>\n","protected":false},"featured_media":1967,"template":"","meta":[],"product_cat":[117],"product_tag":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/\/unjpress\/wp-json\/wp\/v2\/product\/1966"}],"collection":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/\/unjpress\/wp-json\/wp\/v2\/product"}],"about":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/\/unjpress\/wp-json\/wp\/v2\/types\/product"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/\/unjpress\/wp-json\/wp\/v2\/media\/1967"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/\/unjpress\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1966"}],"wp:term":[{"taxonomy":"product_cat","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/\/unjpress\/wp-json\/wp\/v2\/product_cat?post=1966"},{"taxonomy":"product_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/edura.unj.ac.id\/\/unjpress\/wp-json\/wp\/v2\/product_tag?post=1966"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}