Penggunaan bahasa Indonesia dalam puisi modern Indone sia saat ini telah banyak mengalami perkembangan. Bahasa Melayu pada awal abad ke-20 sudah memberikan pengaruh awal yang besar dalam kelahiran puisi modern Indonesia. Pada era 1970-an penggunaan bahasa Indonesia dari genera si baru urban Jakarta mulai menguat. Kini, pada era internet, puisi Indonesia makin mengadopsi bahasa Indonesia ragam informal yang semakin mencair, menembus batas-batas generasi, ras, etnis, kelas, dan gender. Saya berupaya mengambil jejak-jejak perkembangan itu dalam proses penerjemahan antologi puisi ini. Misalnya, dalam puisi “Monolog untuk Po hon Terakhir di Bumi” saya mengadopsi gaya puisi modern awal Indonesia dengan memperkuat nuansa alam-romantik puisi ini. Berbeda dengan itu, dalam puisi “Binasa”, misalnya, saya lebih mengadopsi gaya puisi Indonesia era 1970-an yang lebih bebas dalam struktur dan tajam dalam ironi. Akhirnya, gaya mutakhir saya cobakan ke dalam puisi “Lumut” dan “Buka Dong Mata Lu…” yang lebih leluasa dalam menggunakan bahasa informal, terutama bahasa anak muda urban Jakarta. Saya berharap upaya penerjemahan ini dapat menjadi salah satu jalan bagi dialog kebudayaan yang lebih intim antara Australia dan Indonesia.
(Catatan Penerjemah)

